Kisah Penjual Bumbu

Desa kami tadinya pernah tenteram sejahtera. Penjual bumbu yang membuatnya begitu. Penjual bumbu datang entah darimana. Suatu hari, menggendong bakul rotan besar yang membuatnya seperti mobil mesin penggiling semen di kota besar, Penjual Bumbu menuruni lereng bukit mendatangi pasar kami di lembah ini. Mengambil suatu sudut pasar, entah bagaimana tidak ada penjual lain di pasar bahkan centeng pasar yang menggugat kedatangannya. Ada sesuatu darinya yang membawa rasa hening di hati yang memandangnya.

Mengawali kegiatannya setiap siang di pasar, Penjual Bumbu akan bersimpuh seperti pesinden di tempatnya, meletakkan bakul rotan di sisinya, melipat selendang batik warna merah jambu yang dipakai mengikat bakul untuk dijunjung di punggung. Ia lalu mengatur letak empat tampah rotan yang tadinya disunggi di atas kepalanya, rapi membentuk setengah lingkaran di hadapannya. Penjual Bumbu lalu mengeluarkan batok kelapa-batok kelapa kering dari bakul rotannya.

Batok kelapa kering ini dipakai Penjual Bumbu sebagai mangkuk bumbu adonannya. Tiap kali, Penjual Bumbu akan meletakkan mangkuk batok berurut mulai dari tampah di sisi kanannya. Pemandangan ini saja sudah membius, bagaimana setiap batok bisa diletakkan di tampah rotan tanpa terguling. Dijejerkan melingkar, setelah sesak memenuhi tepi tampah, mangkuk batok berikutnya diletakkan di lingkar lebih dalam. Sampai penuh memusat di tengah tampah. Baru ia akan mengisi tampah kedua. Sampai tampah terakhir penuh terisi, semua mangkuk masih tertutup daun pisang. Baru kemudian Penjual Bumbu akan membuka daun pisang – dengan gerakan anggun perlahan dan raut wajah khidmat – selalu dimulai dari batok kelapa yang pertama diletakkannya. Setiap lembar daun pisang ditumpuk rapi di tangan kiri, lalu dimasukkan kembali ke bakul.

Pada setiap mangkuk batok kelapa – ini yang selalu membuatku terpesona – tampak beraneka warna dan tekstur adonan bumbu ulek, cair dengan kekentalan yang beragam. Warna-warna yang indah. Merah tidak hanya merah. Ada batok kelapa kering dengan isi merah darah, merah tomat, merah jambu air. Hijau tidak melulu hijau. Ada hijau rumput gajah, hijau selada air, hijau gelap lumut. Ungu, hitam, coklat, jingga, setiapnya dengan berbagai nuansa. Aku sudah mati-matian mencari warna kembar di ketiga tampah itu, bahkan karena penasaran kutantang teman-teman untuk bantu temukan. Tapi kami belum berhasil. Tidak ada satu mangkuk pun yang berisi bumbu dengan warna yang sama.

Yang luar biasa juga, tiap kali daun pisang terkuak dari permukaan satu batok, akan tercium aroma yang begitu menggoda. Bumbu warna merah tomat, misalnya, menguarkan harum rendang masakan warung padang. Bumbu hijau selada air, menebarkan wangi tumis kangkung restoran cina. Adonan bumbu coklat kayu jati, mengudarakan aroma menggairahkan sate madura. Kami akan mengeluarkan bunyi-bunyian kekaguman tiap kali Penjual Bumbu mengangkat daun pisangnya. Aah, Hhmm, Wow, Waah, seketika tercetus tiap kali aroma bumbu terbebaskan dari kekapan daun pisang. Bergantian kami akan melenguh. Kadang, bisa bersamaan seperti paduan suara.

Sebaliknya, Penjual Bumbu senantiasa hemat berkata-kata. Duduk bersimpuh beralas tikar lipat, gayanya lebih bak ratu daripada penjual bumbu. Saat semua batok sudah terbuka dan aroma lezat merembang, menyihir kami yang jongkok mengitarinya tanpa pedulikan sengatan matahari siang, baru ia menjawab pertanyaan kami. Itupun seadanya: Ini bumbu gulai kambing. (Bahannya?) Ya biasa, bahannya ini, itu, anu. (Oh. Yang itu?) Itu untuk rawon. Ya bahannya juga biasa, anu, itu, ini. (Cara masaknyanya?) Ya biasa, tinggal ditumis dulu, baru dicampur dengan bahan lainnya. (Lalu?) Ya tinggal campur dengan daging atau bahan lainnya. (Lalu?) Ya bumbunya ini yang akan bikin istimewa. (Kok bisa?) Coba cium saja baunya.

Mulanya hanya beberapa saja ibu kami yang mendatanginya. Jadwal belanja di pasar memang lazimnya pagi hari. Tapi sejak hari pertama kedatangannya di pasar desa kami, Penjual Bumbu sudah menarik perhatian. Kini, siang belum lama terjelang, adonan bumbu ulek Penjual Bumbu pasti sudah ludas terbeli. Pembeli tinggal sebutkan masakan apa yang akan dibuatnya, ia akan cidukkan bumbu tertentu dengan sendok kayu, tuangkan pada daun pisang di atas kertas koran, membungkusnya mengerucut dan menyemat atasnya dengan potongan lidi. Yang pasti, apapun yang diminta, Penjual Bumbu selalu sedia bumbunya.

Penampilan Penjual Bumbu hampir sama seperti perempuan penjual sayur, buah, daging, ikan, atau bahkan penjual bumbu ulek siap masak lainnya. Berkebaya-berkain, keduanya dengan warna yang sudah memudar. Rambut beruban digelung. Sedikit gemuk khas tubuh perempuan hampir setengah baya. Sedikit pendek khas generasi terdahulu yang kurang gizi. Sangat biasa saja. Tapi ada sesuatu pada raut wajahnya, sorot matanya, cara bicaranya yang tenang teratur, yang mengundang perhatian – bahkan rasa penasaran – orang yang melihatnya.

Susuk, kata ibu dari salah satu kami. Yang mendengar biasanya diam saja. Tapi sebenarnya mana ada yang percaya, karena ibu itu memasok bakso ke salah satu penjual di pasar. Pastinya cuma iri saja. Ibu-ibu kami lebih percaya bahwa ini semua karena Penjual Bumbu punya aura wibawa.

Tapi, lebih dari wibawa, semua sangat percaya bahwa bumbu-bumbu ulek adonan Penjual Bumbulah sumber segala pikatannya. Aromanya, warnanya yang sedapkan mata. Kebanyakan malah lupa membicarakan rasa dari bumbu itu sendiri, dan pengaruhnya pada rasa masakan yang dibuat ibu-ibu kami itu. Kalaupun ada yang merasa masakannya tidak lebih enak dibanding sebelum memakai bumbu yang dibeli dari Penjual Bumbu, ibu-ibu kami itu justru akan menyalahkan diri mereka sendiri. Ah, itu karena aku menumisnya terlalu lama hingga rasanya sangit. Mana bisa adonan bumbu seharum itu, dengan warna semenarik itu, bikin gulaiku malah pahit begini?? Aku saja yang ceroboh. Begitu contohnya kata mereka. 

Dinamika pasar lalu berubah. Ibu-ibu lebih memilih belanja di siang hari, saat Penjual Bumbu sudah datang. Bahkan, para ibu kami bersedia meninggalkan tayangan sinetron, gosip artis, dan berita kriminal yang disiarkan stasiun tivi di siang hari. Para ibu memilih berkumpul di pasar. Tetangga yang jarang bertemu jadi ketemu, tetangga yang suka bertengkar jadi silaturahmi.

Hidup kami, anak-anak, juga berubah. Kami lebih suka memperhatikan Penjual Bumbu dari pada Penyewa Mainan Elektronik, penggoda nomor wahid bagi anak-anak desa kami. Kami tidak lagi mencuri uang belanja ibu atau menggunakan uang jajan yang sedianya untuk pengganti sarapan atau makan siang saat sekolah, untuk menyewa mainan elektronik selama beberapa menit. Kabel-kabel yang biasanya tersulur hubungkan tangan-tangan mungil kami yang cekatan mengarahkan permainan dengan perangkat game yang berjejer dihamparkan di atas kardus bekas, kini terkulai layu. Apalagi Tukang Es Goyang, Penjual Mie-instan-dalam-gelas-plastik, Tukang Cireng, Abang Gorengan, Penjual Mainan, Tukang Ikan Hias – mereka lebih tidak ada artinya lagi.

Sepulang sekolah, kami tidak lagi berkeliaran tanpa tujuan dan bermain tanpa kenal waktu. Pekerjaan sekolah kami kerjakan secermat dan secepat mungkin, agar kami bisa segera pulang tepat waktu. Bel berbunyi, bergerombol kami melangkah dalam diam – di kepala kami satu tujuan: segera ke pasar, menunggu Penjual Bumbu datang.

Mungkin frustrasi karena telah mencoba segala cara untuk memasaknya tapi tak kunjung menghasilkan rasa masakan yang berbeda, belakangan ibu-ibu kami malah lebih suka menyajikan adonan bumbu dari Penjual Bumbu begitu saja di meja makan sederhana kami. Ibu tidak memasak lauk sama sekali – nasi kami kunyah sambil menghirupi aroma bumbu Penjual Bumbu yang luar biasa. Ajaib! Lidah kami jadi menari menikmati rasa yang seolah jadi luar biasa. Bahkan, ibu lalu sering tidak masak sama sekali. Begitu nikmatnya aroma bumbu si Penjual Bumbu, menghirupnya saja sudah membuat kami kenyang. Meski tubuh kami makin lama makin kurus, perut makin cekung, pipi makin kempot, kami tidak kelaparan. Kami tetap nyenyak tidur di malam hari dan riang menjalani kegiatan kami di siang hari.

Dan begitulah desa kami menjadi tenteram sejahtera. Ibu-ibu tidak lagi bergunjing tentang perceraian artis. Berdamai dengan berapapun uang belanja yang diterima. Anak-anak tidak liar cari hiburan di luar gedung sekolah yang menyesakkan dan rumah yang serba kekurangan. Kami kian santun, dan memilih bergelung di rumah di atas dipan papan, bermimpi indah sejak terpuaskan oleh aroma bumbu

Sampai, kehidupan yang tenteram lalu terusik oleh para ayah desa ini.

Sepulang dari kerja keras mereka di pabrik, sawah, ladang, atau kebun, rupanya penciuman mereka sudah begitu majal karena asap pabrik, bau pupuk, bau kerontang kemarau, dan mungkin bau keringat mereka sendiri. Atau mungkin, hidung mereka terbiasa hanya mengenali segala hal yang busuk, yang buruk. Tidak mampu mereka menikmati aroma bumbu si Penjual Bumbu yang dihidangkan ibu, yang kaya cita rasa itu. Saat ditanya tentang ketiadaan pangan di rumah dan tubuh kami yang semakin tipis, ibu tidak bisa menjawab apa-apa, dan hanya memandang balik dengan air mata berlinang-linang karena kena marah. Para ayah makin tidak mau mengerti. Berkali-kali mereka bilang hal ini tidak masuk akal, tapi bagi kami merekalah yang sebenarnya waton, asal saja tidak mau menerima kenyataan yang ada.

Pada suatu malam yang gerimis, para ayah ini berkumpul di balai desa. Apa lagi, kalau bukan merencanakan bagaimana caranya agar Penjual Bumbu tidak lagi berjualan di desa kami.

Siangnya, alih-alih pergi bekerja, para ayah berduyun-duyun mendatangi pasar. Kedatangan mereka hampir bersamaan dengan kami anak-anak yang pulang sekolah, dan ibu-ibu kami yang meninggalkan tayangan gosip artisnya. Beberapa ayah awalnya berusaha bicara baik-baik pada Penjual Bumbu, memintanya tidak lagi berjualan di pasar desa kami. Permintaan ini ditanggapi dalam diam oleh Penjual Bumbu, pandangannya seperti bertanya apa salahnya. Kami yang justru jadi ribut. Ayah tega! Ayah ingin kami main pleistesyen sewaan saja?? Ibu-ibu kami juga. Pakne kok tega? Mbakyu Penjual Bumbu kan sama-sama cari makan seperti kita. Lagipula, tanpa bumbu Mbakyu Penjual Bumbu, aku nggak pede masak lagi! Pakne mau, kita semua kelaparan??

Dan entah bagaimana, akhirnya emosi kian meninggi. Para ayah ada yang tidak sabaran, dengan amarah menendangi tampah-tampah pengalas mangkok batok kelapa kering wadah bumbu aneka warna. Bumbu meruah, menyatu dengan tanah basah karena hujan tadi pagi. Tambah mengotori kaki dan sandal jepit kami yang memang tidak pernah benar-benar bersih. Aroma lezat mengeruyak, bercampur dengan tengik keringat kami, masam bau nafas mulut kami karena perut yang lama kosong.

Kami tidak terlalu ingat tepatnya apa yang lalu terjadi. Beberapa dari kami mengingat akhirnya seperti ini: Tampah dan banyak batok kelapa bergelimpangan. Penjual Bumbu meneteskan air mata tapi herannya tidak terdengar isaknya. Tak bersuara, tak menjawab panggilan para ibu dan kami anak-anak yang memohon ia tinggal. Penjual Bumbu beranjak pergi, melangkah ke arah bukit, memeluk bakul rotan yang hanya terisi lembaran daun pisang.

Aku juga tidak ingat apa yang terjadi. Tapi sampai aku dewasa begini, tiap kali kukunjungi ibu di desa, ibu masih mengeluhkan betapa ibu rindu akan aroma bumbu aneka warna si Penjual Bumbu, yang tanpa masuk ke mulut kami dapat membuat perut kami kenyang, tidur kami nyenyak, hati kami riang.

Kisah Ibu Penjual Daun Pisang

semburat kuning mentari subuh menemani langkah senjanya, kain krem bergaris merah melilit membungkus warna kelabu putih rambutnya. terseok berjalan menembus kesyahduan sisa subuh, berteman bakul bambu tua terbungkus kain jarik coklat lusuh. bakul tua berisikan lembar daun pisang yang sudah mulai menua di beberapa sisinya, dan beberapa sisir pisang raja yang nampak mulai kehitaman di beberapa bagiannya.

hari mulai hangat ketika tapak seoknya berhenti. tubuh senjanya didudukkan di atas trotoar kecil sebuah pasar yang masih bermimpi. keriput tangannya mulai membuka bungkusan bakul tuanya dan mengeluarkan semua barang dagangannya. mulailah ia meniti nafas menghitung detik menanti uluran tangan-tangan pembeli. hingga sisir demi sisir pisang berganti dengan sesuap nasi. hingga lembar demi lembar daun pisang menjadi pengobat perih.

ah, ibu tua,
di rumah tengah menanti seorang lelaki senja yang tak lagi bisa menjadi penyangga, karena majikan keji telah membakar segala impi. tubuh kokohnya tlah tercabut dari raga, langkah kaki citanya tlah sirna dari alam jaga, lenyap dihempas lautan amarah sang majikan di tanah seberang. bahkan untuk duduk pun tubuhnya tak lagi mampu menyambut.

kapitalis kian bengis, alam kaya hanya untuk penguasa, bahkan sedut nafas pun harus berebut.

ah, begitu banyak kisah terajut dan tersembunyi di balik tubuh-tubuh senja itu...

Kisah Pedagang Daun Pisang

Pagi itu terlihat seorang ibu tua berjalan menyusuri kebun pisang. Ia tersenyum menjalani rutinitas hidupnya sebagai seorang pedagang daun pisang. Dengan sedikit bernyanyi lirih ia mengambil satu persatu daun pisang kepunyaan haji Ali.
Terkadang ia hentakkan kakinya layaknya penari india sambil membawa bakul yang kini tlah penuh trisi daun pisang dan berharap ia dapat mendapat penghasilan.
Tak seperti biasanya ia berdagang di emperan itu, mulai dari pagi sekali hingga mejelang petang. Tidak lupa ia bersyukur pada Yang Maha Pencipta dengan melaksanakan kewajiban sholat yang lima waktu di sela-sela waktunya untuk berdagang.
dalam sehari penghasilannya tak menentu, kadang 5000,10.000, 15.000 atau lebih bahkan kalau lagi sepi yaaa.. ngelamun dech..
Pas jam 11 pagi tiba-tiba sepasukan Satpol PP menghampirinya, salah seorang dari mereka mengusirnya dan seorang lagi menendang bakul dagangannya hingga daun-daun pisang itu berserakan dan terinjak-injak. Ibu Tua menjerit, menangis, menciumi kaki komandan satpol agar tidak merusak dangannya. Namun malah cercaan dan hinaan yang ia dapatkan.
Bakulnya yang merupakan teman hidup selama ini telah berubah menjadi tempat sampah yang siap dibakar.
Ia meraung-raung menginginkan bakul itu. Hingga akhirnya ia terkulai tak berdaya melawan semua itu, hanya tetesan air mata yang mengiringi daun-daun pisang yang berserakan. Mungkin hanya do'a yang dapat terucap meratapi nasib yang tak berpihak...
Hanya satu kata penguasa yang terngiang ditelinganya yakni "Mewujudkan Masyarakat yang adil dan Makmur"
"Tuhanku,...... Aku serahkan Padamu Hidupku dan Matiku...."
Dalam butiran air mata ia memanggil nama-Nya....

Gantung Tas Sekolah demi Hidupi Keluarga

KEMISKINAN masih menjadi pemandangan sepanjang sejarah di negeri ini. Dalam negara yang salah urus tidak ada persoalan yang lebih besar, selain persoalan kemiskinan. Kemiskinan juga telah mengantarkan jutaan anak Indonesia tidak bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas. Seperti yang dialami Hengki (16), salah seorang pengamen di kawasan Kalimalang. Dia harus merantau ke Jakarta di usia yang terbilang sangat belia.

Di usianya yang baru menginjak 10 tahun, Hengki merantau ke Jakarta bersama seorang saudaranya. “Saya niat merantau ke Jakarta untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Untuk bisa membantu orangtua di kampung," ujar Hengki saat berbincang dengan okezone, baru-baru ini.

Kemiskinan yang dialami keluarganya di Padang membuat sulung dari empat bersaudara ini harus rela menunda keinginannya bersekolah lebih tinggi lagi. Hengki rela menggantungkan tas sekolahnya untuk mengadu nasib di Jakarta. “Biarlah saya membantu orangtua mencari uang agar adik-adik tetap bersekolah,” tuturnya. Walaupun jumlah pendapatan yang dihasilkan dari mengamen di kawasan Kalimalang hanya Rp40.000 per hari, Hengki tetap menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dikirimkan kepada orangtua di kampung.

Penghasilan yang minim tersebut didapatkan Hengki dengan mengamen dari pukul 11.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Pilihan berat ini dijalani karena tak ingin membebani orangtua. Hengki memutuskan tidak mau bergantung kepada siapa-siapa, termasuk untuk tinggal dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Dulu ketika masih melanjutkan sekolah, saya tinggal bersama saudara, tapi sejak lulus lebih banyak menghabiskan keseharian di jalan,” tutur Hengki.

Untuk urusan memejamkan mata pun dia lebih memilih berada di teras toko yang ketika malam hari sudah tutup. Keinginan untuk terus bersekolah pupus ketika kemiskinan menjerat keluarganya. Orangtua yang hanya seorang buruh tani dan tidak memiliki penghasilan tetap membuatnya pasrah menerima nasib. “Dulu ketika masih bersekolah di kampung, saya juga ikut bekerja di lahan pertanian tapi penghasilannya sedikit,” imbuh Hengki. Dengan pendapatan yang minim itu Hengki hanya bertahan bekerja selama dua bulan.

Lain halnya dengan kisah hidup si kecil Eki. Dengan usia yang baru menginjak 8 tahun, bocah ini harus membantu sang ibu menjadi pengemis di jalanan Ibu Kota. Aktivitas ini dijalani Eki sejak berusia dua tahun hingga kini.

Berbeda dengan nasib Hengki yang harus putus sekolah, Eki masih lebih beruntung dengan rutinitas mengemis dari pukul 13.00-21.00 WIB. Eki masih bisa bersekolah di pagi harinya. Siswa kelas 1 SD yang bersekolah di Jati Bening ini mengaku tidak pernah belajar setiap hari. “Kalau belajar cuma hari Minggu aja, karena kalau hari Minggu ngemisnya libur,” ujar Eki.

Faktor kebutuhan ekonomi kian tinggi dan penghasilan sang ayah yang hanya tukang cuci mobil, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Karenanya, ia dan ibunya harus rela mengemis demi meringankan beban ayahnya membayar uang sekolah. Ibu dan anak ini bisa menghasilkan Rp70 ribu sehari. Eki yang ingin terus sekolah hingga cita-citanya menjadi dokter ini berharap kehidupannya lebih baik suatu saat nanti. Membahagiakan kedua orangtua juga menjadi dambaannya selain mengejar cita-cita menjadi seorang dokter.

Perjalanan hidup Hengki dan Eki menjadi potret buram kehidupan anak Indonesia yang terpaksa berhenti sekolah dan turun ke jalanan karena kemiskinan. Mereka harus membantu orangtuanya mencari nafkah dengan untuk bertahan hidup. Akar persoalan anjal adalah kemiskinan sehingga penanganan dari masalah sosial ini harus berawal dari kemiskinan itu sendiri yang menyebabkan mereka turun ke jalan.

"Seandainya ada undang-undang yang melarang anak turun ke jalan itu malah bentuk kriminalisasi. Jadi pendekatan yang mesti dijalankan dalam menangani anak jalanan adalah mengatasi kemiskinan mereka," papar Kriminolog Universitas Indonesia Iqrak Sulhin.

Menurut dia, hal terpenting terhadap penanganan anak jalanan adalah memikirkan pemenuhan jaminan kebutuhannya untuk membebaskan mereka dari kemiskinan sehingga tidak turun ke jalan. "Bisa dengan cara memberikan tempat tinggal, fasilitas belajar atau sarana usaha," kata Iqrak. Dia juga mengatakan, dalam konteks eksploitasi anak jalanan ini banyak modus. Pelakunya malah terkadang orangtuanya sendiri. Sebab itu, orangtua juga harus menjadi salah satu pusat perhatian, selain pihak-pihak lain yang mengorganisir mereka di jalanan.

“Program tabungan untuk anjal yang dilaksanakan oleh pemerintah bisa saja berjalan secara efektif  apabila dalam pelaksanaannya dana yang dianggarkan oleh pemerintah diberikan secara tepat sasaran,"  kata Sosiolog Univeritas Esa Unggul, Abdurrahman kepada okezone, baru-baru ini.

Dia menjelaskan, untuk mencarikan solusi terbaik untuk penanganan masalah anjal seharusnya pemerintah tidak hanya mengadakan program yang hanya mengucurkan dana begitu besar. Namun,  pemerintah sebaiknya memikirkan cara untuk memberikan tempat tinggal bagi anjal. Menurutnya, rumah yang dibangun untuk anjal tersebut sebaiknya digunakan untuk memberikan pendidikan agar mereka bisa dididik dengan ketrampilan. Dengan modal ketrampilan ini diharapkan mereka dapat mandiri dengan membuka usaha, sehingga pada akhirnya tidak kembali ke jalan.

“Pemerintah juga harus konsisten terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang sudah jelas menyebutkan bahwa fakir, miskin dan anak jalanan dipelihara oleh negara,” tandas mantan Kepala Jurusan Jurnalistik Univeritas Esa Unggul itu.

Menurut dia, apabila amanat konstitusi tersebut bisa dilaksanakan dengan baik tidak mungkin jumlah anjal akan berkurang. "Pembangunan tempat tinggal untuk anak jalanan seharusnya bisa dibangun oleh pemerintah dan dikelolah
“Laskar Pelangi” karena tertarik kepengen nonton filmnya. Sebelumnya novel “Laskar Pelangi” sudah lebih dulu terkenal karena masuk jajaran novel “best seller”. Temen yang sudah lebih dulu baca mengingatkan, bacalah novel ini saat perasaan hati sedang senang. Ini mengindikasikan bahwa novel ini termasuk kategori bacaan berat. Tapi gw melanggar imbauan temen gw itu. Gw baca novel ini saat otak gw lagi “butek” karena kurang tidur. Dan ternyata, apa yang dibilang temen gw itu salah. Bagi gw novel ini “sangat renyah” dan sama sekali tidak berat.

Latar belakang kisah “Laskar Pelangi” yang menceritakan kehidupan di seputar sekolah kaum miskin yang reyot di Belitung terasa tidak terlalu aneh bagi gw. Sekolah seperti itu banyak bertebaran di daerah terpencil di Indonesia. Seperti: sekolah anak transmigran di Tulang Bawang Lampung (lihat: perjuangan anak transmigran).

Yang menarik adalah novel ini berisi cerita kehidupan masa kecil penulisnya (?) saat duduk di bangku SD, SMP hingga memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Bagi gw, daya tarik buku ini adalah pada daya juang anak-anak kaum miskin untuk meraih kehidupan di masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

Setelah membaca habis novel ini, bagian yang paling menarik justru terdapat pada Bab I: Sepuluh Murid Baru. Dalam bab ini diceritakan perjuangan Bu Mus Dan Pak Harfan bagaimana mendapatkan 10 murid SD kelas satu pada tahun ajaran baru agar sekolah Muhammadiyah di Belitong tetap dapat bertahan. Karena bila mendapat murid kurang dari 10, maka sekolah itu akan ditutup.

Setelah Bab ini, bab selanjutnya bagi gw seperti bernostalgia berkunjung ke Belitung. Tentang kondisi lokasi tambang timah dan kehidupan masyarakatnya. Tentang kesenjangan sosial antara karyawan PN Timah dan penduduk sekitar yang bak “langit dan bumi”. Tentang perjuangan 10 murid SD Muhammadiyah hingga terlepas dari kemiskinan. Dan tentang kesuksesan sang penulis mencapai cita-citanya dari anak buruh tambang yang miskin hingga mendapat bea siswa sekolah ke perguruan tinggi.

Rasanya tidak aneh kalau banyak yang suka dengan novel ini. Karena novel yang mengangkat kisah pahit getir kehidupan masyarakat bawah yang ditulis secara gamblang, tanpa “tedeng aling-aling” dan mengalir seperti air, sesuai apa pemikiran penulisnya.

Sehabis membaca novelnya, rasanya tidak sabar menantikan bagaimana jadinya bila kisahnya diangkat ke layar lebar. Melihat kembali setting Belitung belasan tahun silam. Dan keindahan edensor seperti yang diungkapkan penulisnya. Apakah kesan yang timbul bagi penonton tentang keindahan edensor sama dengan yang dikisahkan Andrea Hirata, sang penulis novel ini.

anak sekolahtransmigran
Perjuangan Anak Transmigran

Para remaja ini baru pulang. Setelah sejak siang berkutat dengan pelajaran di kelasnya. Mobil angkutan ini adalah satu dari dua mobil angkutan umum yang melayani murid sekolah ini. Sekilas para remaja belasan tahun ini tak berbeda dengan pelajar SMA lainnya, namun sekolah mereka berbeda dengan sekolah lainnya di kawasan ini, karena mereka bersekolah secara gratis.
Dua dari tiga remaja ini adalah Puspita dan Rukminah. Sejak delapan bulan yang lalu, keduanya bersekolah tanpa dipungut uang SPP dan uang bangunan, di sebuah Sekolah Menengah Atas di Tulang Bawang, Lampung.
Tugas-tugas rumah tangga yang sedang diselesaikan ini dikerjakan tanpa paksaan dari pemilik rumah. Mereka melakukannya sebagai balasan atas kebaikan pemilik rumah yang memperbolehkan mereka tinggal di rumah ini.
Mereka tinggal di rumah ini karena rumah mereka jauh dari sekolah. Ditambah kondisi jalur transportasi yang buruk, membuat jarak rumah mereka dengan sekolah ini sulit ditempuh. Idealnya, mereka tinggal di asrama. Namun karena keterbatasan dana, pihak yayasan pengelola sekolah menitipkan mereka kepada warga setempat, ataupun pondok-pondok pesantren.
Sebagai kompensasinya, murid-murid sekolah yang dititipkan ini, membantu meringankan pekerjaan pemilik rumah, baik di rumah, di kebun, maupun di toko.
Ini adalah Asnawi. Ia juga murid SMA gratis di Tulang Bawang, Lampung. Pagi hari sebelum masuk sekolah, pemuda berusia 17 tahun ini, membantu menyadap, dan merawat pohon karet di perkebunan milik bapak asuhnya. Ia merupakan anak ke-enam dari tujuh bersaudara yang bercita-cita menjadi polisi. Orangtua Asnawi merupakan peserta program transmigrasi pada era tahun 80-an.
Sekolah gratis ini didirikan atas gagasan sekelompok orang yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Peduli Transmigrasi Indonesia (HMPTI). Mereka prihatin, karena taraf hidup keluarga transmigran di tempat ini masih jauh dari harapan.
Sekolah gratis yang didirikan pada tingkat Sekolah Menengah Atas, karena banyak anak-anak yang putus sekolah pada tingkatan ini. Yang dapat bersekolah disini adalah mereka yang berasal keluarga transmigran tidak mampu, muridnya berjumlah 140 orang.
Meski telah berdiri sejak dua tahun lalu, sekolah ini belum memiliki gedung sendiri. Mereka meminjam gedung sebuah Sekolah Dasar Negeri di Desa Banjar Agung.
Walau tidak dipungut bayaran, menurut Muslihuddin, Kepala Sekolah SMA HMPTI, antusiasme murid untuk mereguk ilmu di sekolah ini sangat tinggi. Karena inilah satu-satunya pilihan yang mereka miliki untuk menggapai cita-cita.
Mendapatkan pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang dijamin undang-undang dasar. Namun tak dapat dipungkiri, belum semua warga negara dapat menikmati pendidikan yang layak. Keberadaan sekolah gratis anak-anak transmigran ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena siapa tahu, para pemimpin bangsa ini kelak, merupakan lulusan sekolah semacam ini. (Lengkapnya lihat: www.indosiar.com/news/horison)

Kisah Penjual Kayu

Pada suatu desa di tepi hutan, hidup seseorang yang hidupnya sebagai penjual kayu. Hidup yang dijalaninya penuh dengan keikhlasan, rasa bersukur yang tinggi dan rasa berserah tinggi terhadap Allah. Sehingga dalam keluarganya yang sederhana selalu dalam ketentraman dan kebahagiaan.

Pada suatu hari terjadi malapetaka di kota terdekat, yaitu terjadi banjir dan beberapa rumah penduduk kota yang roboh atau hilang. Mendengar ini si penjual kayu menjadi prihatin dan bersimpati untuk menyumbang kayu kepada korban banjir tersebut. Akhirnya dikumpulkan kayu2 hutan yang ada didekat rumahnya dan dikirim kepada korban banjir tersebut.

Ada juga seorang pengusaha kayu yang melihat ternyata si korban banjir yang membangun rumahnya dengan menggunakan kayu-kayu yang bagus mutunya. Dan pengusaha kayu mendatangi seorang korban banjir tersebut. “Kayu-kayu anda sangat bagus sekali, dari mana membelinya ? saya juga mau membeli kalau bapak mau menunjukkan penjualnya”.

Si korban banjir akhirnya menceritakan asal-usul kayu tersebut. Lalu keduanya membuat kesepakatan yang mereka buat.
Sang korban banjir akhirnya mendatangi si penjual kayu, dan menyatakan minta bantuan lagi kayu dengan alasan masih kurang untuk membangun rumahnya tersebut. Dan si penjual kayu juga memberikan sesuai kebutuhan si korban banjir.
Beberapa kali si korban banjir meminta kayu lagi, si penjual kayu juga agak heran, kenapa masih kurang terus. “Karena kayu-kayu kemarin juga diminta tetangga saya yang rumahnya juga rusak oleh banjir tempo hari” itu alasan dari si korban banjir.
Meskipun diliputi rasa penasaran, si penjual kayu tetap saja memberikan kayu sesuai permintaan si korban banjir, karena merasa kasihan kalau rumahnya belum selesai juga. Sementara itu si penjual kayu juga berusaha tahu apa yang terjadi dengan rumah si korban banjir tersebut.

Dan akhirnya si penjual kayu mengetahui bahwa ternyata kayu-kayu yang disumbangkan tersebut dijual kepada si pengusaha. Tetapi ternyata si penjual kayu tidak menjadi geram atau marah.

Pada hari berikutnya si korban banjir datang lagi ke si penjual kayu dan menyatakan masih butuh bantuan kayu lagi. Dengan alasan untuk menyelesaikan ruangan dapurnya. Dan si penjual kayu bersedia memberikan bantuan tetapi si penjual kayu membutuhkan tenaga untuk mengurus kayu-kayu yang diminta. Si korban banjir menjanjikan akan mengirim orang untuk membantu si penjual kayu.

Selanjutnya si penjual kayu mempersiapkan lahan-lahan disekitar rumahnya. Pada waktu tenaga-tenaga yang dikirim oleh si korban banjir datang, mereka disuruh untuk membersihkan lahan. Dan setelah selesai membersihkan lahan, si korban banjir menanyakan kapan kayunya akan diangkut. Sipenjual kayu menyuruh untuk datang lagi seminggu lagi.

Setelah seminggu sesuai yang dijanjikan oleh si penjual kayu, si korban banjir datang dengan membawa tenaga untuk mengangkut. Tetapi oleh si penjual kayu, orang-orang tersebut malah disuruh lebih dulu untuk menanam biji-biji kayu pada lahan yang sudah dipersiapkan seminggu sebelumnya. Setelah selesai pekerjaan tersebut, dengan tidak sabar si korban banjir menanyakan tentang kayu yang telah diminta sebelumnya.

“Mana kayu yang akan disumbangkan kepada kami, sementara saya juga sudah siapkan orang-orang untuk membantu mengangkut” tanya si korban banjir.
“Kayu-kayu sudah cukup saya kirim untuk membantu bapak sehingga hutan di sekitar menjadi habis, kalau memang mau kayu lagi ya bapak harap sabar untuk menunggu kayu yang baru saja kita tanam tadi” jawab si penjual kayu.

hidup sederhana, bukan miskin

sayang, aku tak bisa berjanji akan membuatmu hidup penuh dengan kegelimangan harta. Aku hanya menawarkan hidup sederhana, dengan segudang cita dan semangat yang kupunya. Semoga itu dapat membahagiakan kita, setidaknya anak-anak kita bisa belajar dari pilihan-pilihan hidup yang kita ambil”

Sesaat saya terdiam, merenungi kata yang kurangkai sendiri. Kata-kata ini memang belum menemukan pelabuhan yang resmi lagi, pelabuhan yang mengikat biduk cinta dan pengharapan. Tapi, aku masih menantikan ia hadir di akhir pendakian gunung besar saat ini.
Sejatinya, hidup ini adalah serangkaian pilihan. Itulah yang dulu tertanam dan sampai saat ini membuat saya dewasa. Bukan sebagai apologi atas segala pilihan yang dinilai salah oleh orang-orang. Menjadi Diri Sendiri adalah sesuatu yang terkadang bagi sebagian besar orang sulit, termasuk saya.
Sekian gunung mengajarkan saya untuk pandai-pandai memilih jalan. Ya, ini salah satu hikmah masuk PHIPETALA yang tidak tertulis kemarin. Selain itu, memilih jalan terkait juga dengan pengharapan. Antara ingin dan tidak ingin, juga antara tujuan dan proses pencapaian. Karena kebahagiaan bukan sekedar akhir dari tujuan, melainkan juga prosesnya. Ya, filosofi yang ini memang terkait filosofi telur-ayam. Tapi, begitulah. Kita harus memilih untuk memandang dari telur, atau dari ayam dulu. Kita mau memandang dari kali pertama yang mana, sehingga kita bisa mengatakan yang ini proses dan yang lainnya tujuan.
Belajar bersyukur dengan sekian nikmat yang Allah SWT berikan di kehidupan kita, semestinya membuat kita makin awas. Ya, namanya belajar mestilah ada nuansa jatuh-bangun. Kali ini saya ingin mengajak calon pendamping saya lebih memahami, bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang terkira.
Peristiwa masa lalu, pun termasuk peristiwa yang saat ini (kuliah ke Belanda). Mengajak saya untuk lebih awas, terhadap segala HTAG (halangan, tantangan, ancaman dan gangguan) yang tidak pernah berhenti menggoda. Sejujurnya saya mudah tergoda, saya tahu dimana saya lemah, saya berusaha untuk tidak terkalahkan (lagi). Bismillah..
Lanjut, maka hidup sederhana yang dibangun bukan berarti menyengsarakan diri. Bedakan, hidup sederhana bukan berarti miskin. Semangatnya adalah semangat memenuhi kebutuhan diri, bukan keinginan. Kalaupun ada lebihnya itu hak orang lain.
Maka, kita coba sekarang. 18 juta rupiah ini sebagai awal perjalanan hidup kita membangun mimpi. Meski dengan begitu artinya, saya harus ekstra keras dan cerdas untuk bisa bertahan hidup di negeri ini dan untuk membeli tiket pulang ke mimpi kita. Sekali lagi, bismillah.. Allah Maha Tahu, kita bisa.

mimpi adalah kisah hidupku

Kala itu, berbilang bulan bulan yang telah lalu
Hari yang kelam membungkus tubuhku ini
Yang lesu terlentang lemah tak berdaya
Dipenuhi doa dan harapan harapan diangan

Berangkatlah sang sukma menuju peraduan
Alam mimpipun segera datang menjemput
Kulihat diriku sedang melakukan perjalanan
Bersamaku beberapa teman-teman ikut didalamnya

Berjalan…kami berjalan seakan mengarungi lautan harapan
Wajah-wajah kamipun dipenuhi semangat
Meraih mimpi yang yang selalu mengusik hari hari
Tak sedikit keluhan dan desahan keluar dari mulut-mulut yang selalu membisu itu

Hingga tibalah kami memasuki gedung yang tinggi
Didalamnya terdapat tangga yang menghubungkan ke tiap tingkat
Kamipun menyusurinya untuk naik ketingkat selanjutnya
Berat sekali karena ternyata pada tangganya mengalir air yang deras

Terus-terus kami menaiki tangga itu
Satu demi satu diantara kami berguguran
Atau mungkin mereka berhenti ditiap tingkat yang ada
Karena yang kutahu jumlah kami makin sedikit

Dan akhirnya perjalanan itu menyisakan 3 orang
Pada puncak disebuah ruangan yang berjendela
Kulihat 1 orang berdiri didekat jendela
Ternyata orang itu terjatuh keluar, dan kulihat dibawah sana api menyala nyala seakan menyambutnya

Aku pun mundur surut beberapa langkah
Kulihat seorang kawan tak berani memasuki ruangan
Ia duduk berpegangan erat pada ujung tangga
Terlihatlah rasa pasrah diwajahnya

Diam-diam ketekuk lututku untuk bersyujud
Kusebut namanNya berulang kali
Segenap kepasrahanpun keluar dari jiwa ini
Entah berapa lama jiwa ini meratap dan bersyujud

Tiba tiba dihadapanku terpampang film kehidupan
Seakan sebuah tabir yang memberitakan kehidupanku
Satu persatupun babak dipertunjukan
Semua tampak seperti nyata dan jelas

Berbagai kesuksesan dan berbagai keindahan
Terpampang sangat jelas dan cepatnya
Hingga akhirnya seorang wanita hadir tersenyum
Ianya penuh jenaka dan coba menghiburku
Tanpa sabar akupun segera berucap
Ya Allah bukankah aku telah memilih si fulan
Dan akupun telah memintakan padaMu agar menjadi pendampingku
Aku juga telah menitipkanya padaMu melalui tiap pujian dan doa doa

Telah kuserahkan ia pada bimbinganMu
Agar ia siap mendampingiku kelak
Dalam menuntaskan cita dan harapan yang kupinta padaMu
Yang bukan lain adalah harapan umatMu jua

Mulutkupun tak henti henti melakukan penolakan
Aku bersikeras mempertahan  perasaanku padanya
Hanya dia dan hanya dia … Ya Allah
Akhirnya rasa gusarku membangunkanku

Aku diam termangu memikirkan apa yang telah terjadi
Rasa kantuku datang lagi hingga memuatku tertidur lagi
Segera mimpi itupun datang menghampiri
Sosok wanita itu dengan sabar menerangkan padaku

Dan katanya…..

Aku ada dan tercipta semata untuk menemanimu
Akulah yang akan menggenapkan tiap langkahmu
Kita wujudkan semua impian muliamu didunia ini
Dan yakinlah bersamaku semua itu kan terjadi

Lagi lagi aku memberontak dan kukatakan
Aku telah memilih si fulan  jadi pendampingku
Hanya dia…hanya dia ya Allah
Pemberontakanku membangunkanku kembali

Aku kembali diam termangu memikirkan semua itu
Tapi rasa kantuku yang berat membawaku tertidur kembali
Seperti sebelumnya mimpi itupun datang lagi
Kali ini aku diberikan pilihan dengan konsekuensinya

Pertama aku dipertemukan dengan si fulan pilihanku
Aku bersamanya dalam singgasana yang indah
Kulihat sekelilingku dipenuhi bangunan yang megah
Aku bahagia sekali didalamnya

Tapi kemudian adegan film lainya segera terbentang
Kali ini aku bersama sosok yang misterius itu
Dan sekarang aku tak bisa berkata kata lagi
Karena dunia nampak terang benderang
  
Segala sesuatunya mengeluarkan cahaya keperakan
Seakan dunia ikut hanyut didalam kebahagiaanku
Layar itupun segera menghilang
Sosok wanita itupun datang kembali

Dia terus mencoba meyakinkanku siapa ia
Sebelum hilang ia tinggalkan kata kata

Aku ada dibelakang masjid
Kutanyakan apakah kamu dekat dengan ustadt….
Jawabnya iya, dan akupun erat sekali hubunganya
Kebingungan dan keresahan membangunkanku terakhir kalinya

………………………………………………….
Kini, hari ini di tahun 2006 akupun masih bertanya
Benarkah semua itu, adakah wanita yang sadar akan penciptaanya
Sadar akan tugasnya didunia dan tahu persis siapa pendampingnya
Sebegitu dekatkah ia hubunganya dengan rabNya….

Tapi kalau itu tidak benar, kenapa sebagian kisahnya telah menjadi nyata !!!


Terima kasih Tuhan atas keadilan terhadap semua makhlukMu
Hingga ijinkan aku untuk sedikit tahu tabir keberadaanku
Dan Engkau ijinkan pula  aku untuk bercakap denganMu
Walau semua itu terjadi dalam sebuah tabir dalam tabir mimpi

kisah seorang pengamen kecil

11111111111111111111111Kulihat seorang anak kecil yang membawa sebuah gitar kecil dengan baju kusut, muka kusam, kaki hitam dan senyum yang keluar dengan memendam kelaparan diperut yang kecil itu. Hati ini menangis, hati ini bersedih dan hati ini sangat ingin memeluk dikau yang menggetarkan hati ini. Aku hanya bisa duduk dan memandangmu dibangku hitam dengan duduk bersanding orang banyak. Aku ciptakan sebuah puisi untukmu, untuk membantu semangatmu dan doamu kepada Ilahi Robbi.
Ketika aku senang, mereka merengek kelaparan,
ketika aku sedang asik makan, mereka lapar, mereka haus
ketika sang pagi datang dengan kesejukannya, mereka berlomba berlari untuk mendapatkan sebiji nasi,
wajahmu yang kusam, yang selalu kau tutupi dengan senyum indahmu dengan semangatmu,
aku menangis dalam hati ini…
kau yang selalu melantunkan nada-nada indah dan menghibur jutaan orang yang hendak pergi,
apa balasan mereka????? tangan yang mengatakan tidak, mereka yang pura-pura tidur…
kau yang selalu mengatakan “ikhlas bagimu, halal bagiku”
terenyuh hati ini, saat kau mengucapkan hal itu, hanya kehalalan yang kau cari….
tapi kehalalan itu rusak, hanya saja sedikit temanmu yang menyelewngkannya
sungguh malang nasibmu
pekerjaanmu mereka anggap hal yang hina…tapi tidak bagiku, kau mulia, kau pahlawan kecilku….
kau berkelahi dengan panasnya matahari, dengan debu dan asap kendaraan yang mematikan itu….
tetap semangat sahabatku…semoga kelak kau wujudkan cita-citamu….

Mereka di Jalanan Demi Sesuap Nasi

Fenomena anak jalanan, gelandangan dan pengemis memang menjadi masalah yang seolah tak pernah terhenti. Bahkan, dari beberapa hasil riset disebutkan bahwa setiap tahunnya, jumlah gelandangan dan anak jalanan semakin meningkat. Mereka mengaku tak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain mengemis atau meminta-minta.

Salah satu anak jalanan yang ditemui di kawasan jalan Marsda Adisutjipto, Sleman Yogyakarta, Fitriana mengungkapkan, sejak usia 5 tahun, ia telah diajak orang tuanya untuk terjun ke jalanan. Pada mulanya ia tak pernah tahu jika ritual meminta-minta yang diajarkan ibunya tersebut pada akhirnya menjadi pekerjaannya setiap hari hingga usianya kini 9 tahun.

"Dulu waktu masih TK saya cuman diajakin ibu ke jalan setelah pulang sekolah. Terus diajari 'ngemis' di perempatan lampu merah sampai sekarang. Tapi biasanya mulai siang karena paginya harus sekolah dulu," ujarnya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Kamis (19/2).

Fitri mengaku kebiasaan meminta-minta ini telah dilakukan orang tua beserta 2 orang kakaknya sejak ia masih sangat kecil. Sementara sang ayah bekerja tak tentu. Terkadang ayah Fitri hanya menjual pungutan botol plastik bekas air mineral. Kadang juga menarik becak milik
tetangganya. Sesekali, ayahnya juga ikut menjajakan koran di jalanan bersamanya. Keluarga Fitri mengaku harus melakukan ini karena ingin membiayai sekolah.

"Ya gimana lagi, keluarga saya memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Padahal saya dan kakak saya harus sekolah. Makanya harus ngemis atau jualan koran. Kadang kalau hujan kami juga menawarkan jasa lap kaca mobil atau motor. Kadang juga sekedar membersihkan debu di kendaraan. Pokoknya apa saja asal dapat duit," katanya.

Menurutnya, pihak sekolah juga mengetahui jika ia sering mengemis usai pulang sekolah. Namun hal tersebut sama sekali tidak dilarang oleh gurunya. "Ibu guru tau, teman-teman juga tau. Tapi saya gak pernah dilarang. Yang penting tetap masuk sekolah saja," ujarnya.

Penghasilan dari meminta-minta di jalanan diakui cukup lumayan. Jika sedang mujur, ia bisa mengantongi uang hingga Rp100.000 tiap harinya. "Tapi gak pasti juga, kadang sehari cuma dapat Rp30.000-Rp50.000. Lumayan bisa untuk makan dan bayar sekolah," katanya.

Sementara itu, orang tua Fitri yang tak mau menyebutkan nama mengaku terpaksa melibatkan anaknya untuk ikut mencari uang di jalanan. "Sudah miskin mbak, mau cari kerja apa lagi kalau bisanya cuman ngemis. Dulu sih pernah jualan, tapi yo malah rugi kok," akunya.

Dikatakannya, lingkungan sekitar tempat tinggalnya memang kebanyakan gelandangan. Tetapi ia membantah jika tergabung dalam sindikat besar. "Gak ada bos-bosan. Ya cuman bareng teman-teman aja. Anak saya juga gak tak paksa dan pagi mereka tetap sekolah," katanya.

Beberapa kali, ia dan keluarganya juga kerap dibawa oleh satpol PP dan dibawa ke rumah singgah. Tetapi tak lantas membuatnya jera. "Ya mau gimana lagi, kalo abis dari rumah singgah juga gak bisa cari duit lagi buat makan dan sekolah. Jadi ya tetap ngemis aja. Kalau ditangkap itu sudah biasa kok," imbuhnya.

Kerasnya kehidupan jalanan adalah santapan mereka sehari-har

Anak Sekecil Itu...
Desy Susilawati
Kampleng. Bagi bocah yang mengaku berusia 14 tahun itu, tampaknya Kata itu terdengar istimewa. Maka, dia pun memilih kampleng yang bermakna tampar dalam bahasa Jawa itu sebagai namanya. Dia sama sekali tak bisa mengingat nama pemberian orangtuanya. Pun. asal usulnya.
"Sejak orangtua saya menghilang lima tahun lalu, saya hidup di jalanan seorang diri. Sampai sekarang, saya tidak menemukan di mana orangtua saya. Kehidupan keras pun harus saya jalani. Agar bisa bertahan hidup, saya mengamen di sekitar Pejaten," ujar Kampleng.
Di jembatan lampu merah Pejaten, Jakarta, berteman gitar kayu kopong dan sebatang rokok yang diisapnya dalam-dalam, Kampleng menghabiskan sisa malam. Sesekali tubuh kurusnya bergidik saat embusan angin malam menusuk.
Ketika jam dinas usai, Kampleng lebih suka pulang. Jangan membayangkan dia bakal mendatangi tempat tinggal nyaman dan hangat. Rumah untuk Kampleng adalah kolong jembatan Pejaten bersama puluhan anak jalanan yang lain.
Di sanalah, mereka membangun tempat singgah yang terbuat dari bedeng yang beralaskan kardus dan ditutupi spanduk. Cahaya cukup dari pendar lampu petromaks. Nasib Agus (15 tahun) tak lebih baik. Seperti Kampleng, dia tak mengenal orang tuanya dan hidup dari jalanan. Mungkin, dia sedikit lebih beruntung ketimbang Kampleng karena dia tak harus mencari nama yang tepat untuk dirinya.
"Saya nggak pernah kenal namanya orang tua. Dari dulu, saya sudah ada di jalanan, mungkin dibuang. Dulu sih saya pernah tinggal di panti, dulu banget waktu kecil. Orang panti juga yang kasih sayanama," ujarnya. Muhammad Rendi boleh jadi bernasib lebih baik. Dia punya nama dari orang tuanya dan masih memiliki ibu. "Ayah saya sudah meninggal," ujarnya lirih.
Namun, kerasnya kehidupan jalanan juga santapannya sehari-hari. Saat ditemui, Rendi seda/ig terjaring razia anak jalanan dan gepeng di Kota Bogor. Untuk dia, urusan tertangkap petugas Satpol PP tak lagi baru.Kapok? Tidak, tentu saja. "Saya sudah di jalanan selama delapan tahun." ujarnya. Ini berarti nyaris separuh lebih dari usianya yang sekitar 14 tahun itu dihabiskan di jalanan.
Napasnya pun telah menyatu dengan segala bentuk kekerasan yang terbentang di jalanan. Mulai dari aksi ciduk petugas hingga bayangan kejahatan yang dilakukan sesama pelaku jalanan. . Untuk Hendra, hidup di jalanan seolah menjadi bagian dari hidupnya. Ia Berada di jalan sejak usia delapan tahun. Dia pun telah merasakan keganasan itu hingga kini, saat usianya 18 tahun.
Dia tak akan jengah bila menyaksikan pertumpahan darah bisa terjadi hanya gara-gara tersenggol. Kekerasan fisik juga dialami. Bedanya, ini tak terjadi antara temannya sesama anak jalanan. "Kebanyakan s/hdari preman." ucapnya.
Bagi Agus, anak jalanan paling beruntung sekalipun tetap sulit menghindari perlakuan buruk semacam itu. "Orang baik, orangjahat, semua ada di jalanan. Nggak sedikit anak kecil yang sehari-hari hidup di jalanan. Mereka tinggal tanpa perlindungan dan nggak juga bisa melindungi diri sendiri. Kata orang-orang, jalanan tempat kejahatan merajalela. Jadi, wajar kalau kejahatan apa saja bisa menimpa anak jalanan. Yang bikin saya heran, justru orang-orang hebohnya setelah ada berita di koran dan televisi," ujar Agus.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo miris. Kendati, untuk dia, masalah anak jalanan merupakan hal yang umum di kota besar, bukan berarti masalah semacam itu akan dibiarkan berlarut-larut. "Perlu penanganan serius dari sejumlah pihak terkait," katanya.
Fauzi mengakui, penanganan anak jalanan yang dilakukan oleh DKI masih belum optimal. "Namun, kami berusaha menyediakan rumah-rumah singgah untuk mereka," ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Sosial DKI, Budihardjo. Dia tidak menampik bahwa fasilitas penanganan anak jalanan sangat minim. "Kapasitas sarana pembinaan tidak sesuai dengan jumlah anjal (anak jalanan) yang ada," ujarnya.
Namun, ingatan seorang Kampleng yang sudah beberapa kali keluar masuk panti sosial di Kedoya, Jakarta Barat, tentang pembinaan di panti jauh dari menyenangkan. "Seperti hidup dalam neraka," katanya."Saya dan teman-teman yang ketangkap dimasukkan ke dalam sel. Kita juga dipukuli dan diinjak-injak oleh petugas panti. Bahkan, rambut kita saja dibotakin. Tenaga kita juga diperas di sana. Belum lagi jatah makan kita yang hanya makanan sisa. Pokoknya, saya nggak tahan hidup di sana karena merasa di neraka. Akhirnya, saya dan teman-teman melarikan diri, ya walau suka ketangkap juga. Ibaratnya, kita main kucing-kucingan."
Keprihatinan serupa turut disuarakan Seto Mulyadi, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Dengan jumlah anak jalanan 50 ribu di DKI Jakarta. Seto menyarankan pemerintah agar membangun pusat pengembangan kreativitas anak jalanan. Jangan hanya ditangkap dan membuat anak-anak jalanan tersebut seolah berada di penjara. "Buat anak-anak itu lebih aman berada di pusat pelatihan, harus ada bimbingan manusiawi, rohani, dan psikologis, terutama psikologis dan dinamika anak jalanan harus didalami," ujarnya.
Jika anak-anak itu merasa terpaksa dibawa oleh pemerintah untuk dibina, kata Seto, tak heran jika mereka melarikan diri dari panti-panti atau tempat penampungan anak jalanan. "Ada gula, ada semut. Jalanan merupakan gula bagi mereka. Buat pusat pelatihan seperti gula," tegasnya.
Di samping itu, Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, fenomena kekerasan terhadap anak meningkat. Fenomena ini, tuturnya, merupakan konsekuensi dari melonjaknya angka anak jalanan yang ada di 12 kota besar Indonesia.
Pada akhir 2009 lalu, jelasnya, 12 lembaga perlindungan anak mitra kerja Komnas Perlindungan Anak merilis bahwa terdapat 168 ribu anak
jalanan yang ada di 12 kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Angka ini melonjak sekitar 73 ribu dibandingkan pada 2008 lalu yang mencatat setidaknya terdapat 95 ribu anak jalanan.
Umumnya, papar Arist, mereka pernah mengalami kekerasan. "Macam-macam kekerasan mulai dari seksual, seperti disodomi orang dewasa, diperkosa oleh teman mereka sendiri, pembunuhan, hingga pemukulan," ungkap Arist yang ditemui pada Jumat (15/1).
Selain itu, Arist menduga bahwa banyak anak yang menjadi korban perdagangan organ tubuh. Ia pun mencontohkan Bunga (bukan nama sebenarnya). Bocah berusia 12 tahun ini ditemukan di Tokyo, Jepang, dengan kondisi kehilangan ginjal dan lidah terpotong.
Prasetyo (21) berkonsentrasi. Tangannya sibuk membubuhi sepatu putih itu dengan cat acrylic biru. Di
tangannya, polos sepatu itu disulap menjadi biru dengan motif bunda membuai anaknya di bagian depan atas sepatu.
Aktivitas mi dilakukan Tyo, sapaannya, saban mendapatkan pesanan. Biasanya, satu bulan dua kali order. Sehari-hari, ia biasa menjadi juru parkir di jalan Bukit Duri, Jakarta Selatan. "Kalau senggang, saya nongkrong di yayasan," ungkap Tyo merujuk pada Yayasan Annur Muhiyam di Jl Bukit Duri Tanjakan Batu. Tebet, Jakarta.
Kendati sejak kelas 2 SMP sudah di jalanan. Tyo mengaku beruntung. Setidaknya, sejak enam tahun lalu, waktunya kia i sedikit di jalanan.
Ia ditemui saat Menteri Sosial Salim Segaf Kl Jufrie bersama Dirjen Yanrehsos Mkmur Sunusi mengunjungi Yayasar Himmata di Plumpang, Jakarta Utara, baru-baru ini. Mereka memberikan bantuan kepada kedua orang tua Ardiansyah (9 tahun) yang tewas akibat dimutilasi Babe (Bekuni).
Kementerian Sosial menganggarkan Rp 184 miliar untuk pelayanan kesejahteraan anak, termasuk untuk anak jalanan.
Tyo hanya bisa berharap pemerintah memperbaiki nasib anak jalanan. "Jangan lagi terjadi korban."
Kampleng agaknya menyimpan asa serupa. Dulu, Kampleng hidup sebatang kara. Kini, dia memiliki keluarga baru. Dalam perjalanan hidupnya. Kampleng bertemu dengan Jujung dan Abay, anak jalanan lainnya. Ketiganya menjalin persahabatan erat layaknya saudara sekandung.
"Sekarang ini, saya tidak hidup sendiri lagi. Ada Jujung, Abay. dan teman-teman lainnya di sekitar saya. Saya juga punya Bang Syahrul yang sudah saya anggap sebagai abang kandung saya. Di bawah kolong jembatan, kita semua hidup menyatu. Kurang lebih 20 orang tinggal di sini," ujar Kampleng.
Jalan hidupnya mungkin saja tak banyak berubah. Namun, mata Kampleng tampak lebih bersinar. Dia
merasa telah menemukan tempat berlabuh. Dia menemukan kehangatan di antara teman-temannya senasib.
Di sudut lain, di bawah naungan jalan tol Pondok Pinang, Agus tampak sibuk membenahi barang dagangannya berupa bergelas-gelas air kemasan. Hujan deras membuat dagangannya tak lekas laku.
Sambil kembali membenahi dagangannya, mata Agus tak lepas dari rombongan pengamen di seberang jalan tempatnya duduk.
"Kalau punya pilihan, tidak mungkin ada orang yang mau hidup di jalanan. Mbak. Sayangnya, saya bahkan tidak bisa membayangkan ada kehidupan lain selain di tempat ini," ujarnya.
Dia pun bergegas mengejar metromini di simpang lampu merah, kembali menjemput pembeli. Alunan lagu Iwan Fals yang dilantunkan para pengamen itu terdengar lirih, "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu...." cOl/cO8/cO9/cl3/cl6 ed endah

Pengemis Jalanan

Pengemis Jalanan dapat diartikan orang yang meminta-minta dipinggir jalan. Kita sering menjumpai mereka ini mangkal di depan-depan pasar tradisional sambil menengadahkan tangan dengan muka yang menghiba. Bahkan tak jarang kita menjumpai mereka di depan Masjid Istiqlal dan Masjid Raya Pondok Indah Jakarta Selatan. Ada yang berani Mengembalikan mereka ke kampung halamannya?
Ironis memang. Disaat orang sholat Jumat untuk memenuhi perintah-Nya, mereka malah mengemis. Pengemis laki-laki tidak sepatutnya melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma agama ini. Bagaimana bisa kita Mengembalikan Jati Diri kalau banyak anak Bangsa yang berprilaku seperti ini?
Jadi sudah sepantasnya bila MUI Jawa Timur mengeluarkan Fatwa Haram mengemis dan di amini juga oleh MUI Pusat. Bahkan Pemda DKI sudah mengeluarkan Perda No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pada intinya pasal itu memberikan sangsi bagi kita yang kedapatan memberikan uang kepada pengemis dan saksi utama tentu saja kepada pengemis itu sendiri. Ini Perda. Tujuannya untuk membuat Bangsa ini lebih dihargai.
Namun terlepas dari pro-kontra yang ada, kita kembalikan kepada kita semua tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi para Pengemis. Toh, kenyataannya memang masih banyak sekali saudara-saudara kita yang memang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Dan ini adalah tugas Departemen Sosial untuk membina mereka agar nantinya mereka dapat hidup mandi dan meninggalkan dunia Pengemis Jalanan. Artikel lengkapnya dapat ibu-ibu baca di postingan yang berjudul Mengembalikan Jati Diri Bangsa

curahan seorang sahabat pengamen

Pernahkah rumah Anda didatangi pengamen? Bagaimana perasaan Anda terhadap mereka? Bagaimana sikap Anda terhadap mereka?

Pengalaman pahit dialami oleh teman saya. Dia merasa sangat sakit hati terhadap sikap pengamen. Pada siang hari saatnya tidur siang, pengamen menyayikan lagu ST 12 di depan pintu. Genjrengan dan suaranya memekakkan telinga dan tidak pergi-pergi. Teman saya tadi terbangun dan menyuruh anaknya mengulurkan dua ratus rupiah pada kantong plastik si pengamen. Tidak diduga dan tidak dinyana-nyana pengamen itu melempar dua keping uang seratus rupiah itu dan pergi.

Teman saya sakit hati dibuatnya. Dia merasa sikap yang dilakukan oleh pengamen itu adalah sebuah penghinaan. Teman saya yang saya ceritakan tadi adalah orang yang bertekad kaya. Sekecil apapun uang dia menaruh penghargaan besar. Dia berpendapat bahwa uang yang besar terdiri dari uang-uang kecil yang terkumpul. Selain karena alasan penghormatan terhadap unga, alasan lain teman saya adalah karena sehari bisa lebih dari lima pengamen datang di rumahnya. Jika sehari ada lima pengamen maka jika setiap pengamen diberi dua ratus rupiah saja maka sehari keluar uang seribu. Bagaimana jika satu bulan?

Kemudian, kenapa pengamen tersebut membuang uang dua ratus rupiah? Mungkin karena pengamen juga merasa terhina karena tampangnya yang ganteng, genjrengannya yang ciamik, dan suaranya yang nyaring hanya dihargai dua ratus perak.

Tentu kita masih ingat lagu Meggi Z, “Semut pun kan marah dan berusaha membalas bila dia dihina dan diinjak” apalagi pengamen?

Pengamen, sesungguhnya adalah penghibur. Mereka datang di rumah kita untuk menawarkan jasa dan kemampuannya menyayi untuk menghibur hati kita yang mungkin sedang gundah gulana dihimpit tagihan.

Pengamen sebenarnya sejajar dengan penyayi-penyayi kafe, orkes melayu, grup band, yang berusaha menawarkan jasa hiburannya. Hanya tempat dan upahnya saja yang berbeda. Upah inilah yang jadi biang masalah. Jika penyayi panggung dan group band upahnya sudah jelas dan disepakati di awal pementasan, tidak demikian halnya dengan pengamen. Tarifnya tidak jelas. Mereka dibayar tergantung sisa receh di dalam saku dan sesuai keikhlasan 'pemirsanya'.

Keprofesionalan adalah hal yang membedakan antara pengamen dengan profesi penghibur yang lain. Seringkali pengamen tidak hafal satu lagupun, hanya mengulang-ulang reff melulu. Mereka seakan mengamen hanya ingin mencari uang dengan mudah tanpa bekerja lebih keras. Tapi tentu saja, tidak semua pengamen demikian, ada juga pengamen yang profesional, menyanyi dengan sungguh-sungguh, dengan kualitas sajian yang sungguh-sungguh pula.

Bagaimana menyikapi pengamen? Mari kita menyikapi pengamen sebagaimana mereka menampakkan dirinya. Pengamen seringkali menampakkan dirinya antara sebagai penghibur, pengemis, dan preman.

Pengamen profesional kita hargai keprofesionalannya, yang bermental pengemis kita hargai usahanya, tapi yang pengamen yang preman kita boleh memanggil hansip dan menyerahkannya ke pihak yang berwajib.

Warga perkotaan terutama perumahan paling takut terhadap pengamen jenis ini. Kalau mereka berbuat apa-apa terhadap pengamen, mereka takut mendapat ancaman di kemudian hari. Hal ini terjadi karena sistem pertahanan kampung di perumahan tidak terjadi. Tetangga yang tidak saling kenal maka tidak mungkin saling dapat menjaga. Untuk itu kumpul-kumpul dengan sesama warga dalam sebuah wilayah sangat perlu diselengarakan untuk membentuk sistem pertahanan kampung demi mewaspadai ulah pencuri, pencoleng, preman, dan pengamen berlagak preman.

Pengamen Juga Manusia

Pengamen, yang selalu dapat kita jumpai tiap hari di jalanan,buskota, rumah makan, sampai kereta api, seperti menempati posisi yang tidak menguntungkan pada kelas sosial masyarakat.
Bagi mereka, pekerjaan mereka sama mulianya dengan profesi lainnya. Dan oknumlah yang melahirkan konotasi negatif dari pengamen. Sama seperti konotasi negatif bagi polisi, pejabat, pengusaha, seniman, dokter, guru yang diimbaskan oknum. Namun  sebagian masyarakat seperti tidak mau tahu, profesi ini tetaplah bernada miring, fals. Yang mereka tahu, pengamen adalah kumpulan manusia malas, pemaksa, dan amat mengganggu.
Di Jakarta, jumlah pengamen mencapai ribuan orang. Sebagian dari mereka menyadari konotasi miring yang ditujukan kepada mereka. Lalu mereka biasanya membentuk kelompok atau kantung-kantung kesenian jalanan sebagai semacam pembelaan. Salah satu komunitas yang terkenal dan sudah punya basecamp permanen adalah Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bulungan pimpinan Anto Baret. Di Bekasi Barat ada komunitas pengamen bernama Penyanyi Bekasi Barat (PBB), kemudian di daerah Bendungan Hilir ada yang namanya “Anak Benhill” sementara di daerah jalan ImamBonjol depan gedung Gani Jemat “Anak Bonjol”. Setiap komunitas biasanya punya kegiatan masing-masing, ada yang menggelar arisan ada juga yang bikin grup Band kecil-kecilan.
Pengamen-pengamen yang tergabung dalam komunitas semacam itu bahkan mengaku mereka bukan tipe pengamen yang membawakan lagu asal-asalan atau meminta uang secara paksa kepada penumpang. Meski beberapa dari mereka bertampang seram dengan tubuh penuh tato, tetapi mereka tetap berusaha ‘tampil’maksimal di depan penumpang. Mayoritas suara mereka juga bagus-bagus.
Cara ‘ngamen’ di Jakarta memang macam-macam, ada yang hanya bertepuk tangan sembari menyanyi dengansuara tak jelas juntrungannya. Ada yang berorasi membaca puisi, ada yang main sulap dan sebagainya. Tapi kelompok pengamen yang mangkal di sekitar terminal Blok M mempunyai klasifikasi sendiri mengenai orang-orang yang boleh disebut pengemen. “Yang disebut pengamen bagi saya bukan cuma nyanyi, dia boleh saja membaca puisi atau kalau perlu bermain drama di atas bis, istilahnya  showbiz atau show diatas bis, dan harus menghibur. Jika tidak menghibur seperti cuma tepuk tangan atau berdendang dengan botol plastik kosong yang ditepuk-tepuk, itu bukan sih pengamen Mas ” kata Reno, salah satu pengamen terminal Blok M.
Cherry, salah seorang pengamen yang biasa mangkal di  Bendungan Hilir mengaku sebal dengan ulah orang-orang mengaku pengamen dan minta uang secara paksa “Mereka itu bukan pengamen, tapi kriminal yang pura-pura jadi pengamen.” kata Cherry tegas.
Yang lebih ekstrem, ada sekelompok orang yang berlagak pengemen di biskota, tapi kemudian bukannya menjual suara malah mengaku baru keluar dari penjara. Buntutnya minta uang dengan nada ancaman kepada penumpang.
“Terus terang mas, saya dan teman-teman pernah gebuki orang model begitu waktu mereka lewat jalur kita di Benhil, biar kapok mereka!” lanjut Cherry  gemas.
Keberadaan orang-orang semacam itu memang meresahkan, bukan saja meresahkan penumpang tapi juga meresahkan para pengamen ‘asli’ yang identitasnya merasa tercoreng. Akibatnya masyarakat mengeneralisasi profesi pengamen.
Padahal sekarang ini tak sedikit pengamen yang berhasil menjadi penyanyi terkenal, sebut saja Iwan Fals, Didi Kempot, Angel Mama Mia, dan yang paling hot,  Januarisman atau Aris, yang sekarang menjadi kandidat kuat pemenang Indonesia Idol 2008. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menaklukan kerasnya jalanan Ibukota. Dan yang jelas ini juga bukti, bahwa stereotip pemalas, tukang minta-minta dan pemaksa adalah tidak sepenuhnya benar dialamatkan kepada mereka. Diantara mereka ada yang benar-benar berjuang setengah mati hanya demi menyambung hidup.

Punk dan Keresahan Masyarakat

Berbagai media mulai menulis dan menayangkan pelbagai masalah dalam masyarakat yang berkaitan dengan keresahan-keresahan yang terjadi akan aktifitas kumpulan manusia yang tampak eksentrik yang mereka menyebut dirinya punk, keresahan–keresahan yang terjadi mungkin juga mengada-ada tapi juga mungkin memang ada, aktifitas para punker ini dinilai kurang biasa dan kurang bisa di terima di masyarakat.
Dandanan norak dan pola hidup yang kurang biasa para Punker,kadang tidak dapat di toleransi masyarakat ,menggelandang itu istilah yang digunakan masyarakat untuk perilaku punker yang selalu melakukan aktifitas di jalanan, baik cari makan,sampai tidur dilakukan dijalanan. Apakah punk identik dengan gelandangan atau anak jalanan dan apakah Punk adalah sikap dan budaya yang meresahkan mungkin disini kita mulai melihat dengan persepsi yang lebih kaya.
Punk adalah suatu subculture yang esoteris dan dapat dikatakan radikal dan fundamental ,mengapa radikal dan fundamental karena secara filosofis Punk berbicara tentang kebebasan dan pembebasan atas keterkekangan dan keterasingan baik secara budaya maupun politik. Punk mengembalikan manusia sebagai manusia yang bebas. Nilai dan norma adalah bentukan yang harusnya merupakan suatu pemaknaan bukan sebuah penjara budaya, dimana manusia yang di dalamnya terasing terhadap norma dan nilai yang mereka sendiri tegakkan.Punk coba membangun nilai dan normanya sendiri agar tidak terasing dan terjebak. Punk awalnya adalah sebuah kesadaran atas apa yang terjadi dimana penindasan dan diskriminasi merajalela, rasialisme, fasisme dan perang yang menghantui bangsa manusia. Budaya dan politik yang tidak sehat telah membentuk Punk menjadi sedemikian rupa. Kalau para Punker dianggap meresahkan mungkin sejak awal memang "meresahkan".
Perilaku punker di Indonesia yang meresahkan masyarakat?. Pelbagai aktifitas punk di Indonesia baik yang tampak maupun yang samar sampai gak kelihatan pun beraneka ragam. Aneka ragam bentuk aktifitas punk seperti bekerja atau berkarya atau segala macamnya pasti berbau dan berasa sebuah pembebasan, pembuatan gig musik secara mandiri, bekerja secara kolektif, berkarya dan melakukan kegiatan yang berhubungan aktifitas ekonomi,atau apapun ketika ada label punk disana pasti ada berbau sebuah pembebasan,namun kalau kita lihat punker pada saat ini yang cukup popular di media dan di seputar obrolan masyarakat adalah tindakan-tindakan negative dan sarat akan stereotype negatif.
Jalanan yang kasat mata kita lihat adalah sebuah tempat yang penuh aktifitas manusia, karena jalanan adalah tempat berkumpul dan berinteraksinya masyarakat, punker kadang mememilih beraktiitas dijalanan dan berinteraksi dengan masyarakat, konflik yang membuat akhirnya punk dianggap meresahkan adalah sebuah konflik perlu di pahami dan diselami, ketika punk dengan aktifitas yang di bilang meresahkan itu bersifat criminal atau merugikan orang lain maka apakah hal tersebut dapat di katakana sebuah aktifitas pembebasan. Menurut penulis masyarakat pasti bisa menilai tanpa melihat atribut saja.
Punk akan tetap eksis apabila dapat melakuakn aktifitas yang mewarnai dengan filosofi itu sendiri. Jalanan akan menjadi sebuah tempat aman dan nyaman apabila punk dapat berinteraksi dengan baik dan tidak meresahkan, masyarakat butuh melihat punk dalam wujud sebenarnya , bukan sebuah keresahan .....
Ketika sibuk akan sebuah pengakuan (eksistensi) punk lupa bahwa pengakuan itu muncul dari siapa, masyrakat diluar tetaplah mayoritas yang mendominasi sebuah persepsi dan datangnnya pengakuan atas minoritas, namun punk sebagai minoritas, masalah dominasi ini adalah secara kultural dan normatif atau disebut juga adat mayoritas. Punk hidup sebenarnya sangat esoteris (dariberbagai budaya) dengan mengambil yang ideal dan positif walaupun setiap hal tidak luput dari ambivalensi (baik dan buruk) namun hal ini menjadi tantangan atas pengakuan. Punk awalnya ingin eksis dengan sebuah pemikiran pembebasan yang mencerahkan dengan berbagai pemahamn atas penolakan perbudakan dan penindasan, pola hidup konsumtif dan menolak kekerasan dan perang, hal ini tergambar dari bentuk punk yang penuh simbol, dari sini dapat di lihat punk adalah sebuah simbol,namun simbol ini tak bertuan siapa saja baik yang paham maupun tidak paham dapat mempunyai simbol ini....semoga punk dapat lebih dilihat dengan benar.

Kisah anak punk


Anak Punk Ga Selalu Reseh..!

Jangan selalu mencap miring anak punk, kalo belon dekat. Mereka emang cuek, tapi juga tau diri. Kenapa mesti berpakaian lusuh?

“Awas anak punk!” Peringatan kayak gitu masih sering terdengar begitu melihat segerombolan anak punk di jalan. Maklum, penampilan anak punk emang bikin “keder” banyak orang. Jaket lusuh yang dipenuhi emblem, sepatu boots Doc Mart, celana panjang ketat, spike (gelang berjeruji) di tangan, rambut tajamnya yang bergaya mohawk (mohak) bikin punkers terkesan garang.

Bukan hanya penampilan yang membuat imej punk jadi “lain” dari komunitas remaja kebanyakan, tapi juga tingkah mereka. Bergerombol di jalan, kadang sampe pagi, dan kadang suka terlibat tawuran. Maka, kompletlah punk kena cap sebagai komunitas yang bermasalah. Padahal, apa sebenernya anak punk kayak gitu? Tukang bikin rusuh?

“Salah banget kali, orang-orang ngelihat kita kayak sampah masyarakat. Mereka yang mikir begitu, sebenarnya nggak tau apa-apa tentang kita,” kata Oscar, salah satu anak punk Jakarta Timur (Sorry, musti pake’ nama samaran).

Menurut Oscar, penampilan punk yang lusuh bukan berarti kelakuan mereka juga minus. Apalagi penampilan kayak gitu udah menjadi cirri khas punk. Mungkin kelihatan lusuh, dekil, kayak orang aneh, tapi kita nggak pernah ngelakuin tidak criminal kayak maling. “Kalo ada anak punk yang malak, dia nggak ngerti arti punk sebenarnya. Mungkin cuma dandanan luar doang yang punk, dalemnya nggak tau apa-apa,” tambah cowok berusia 16 tahun ini serius.

Tapi nggak bisa dipungkiri, penampilan, penampilan punk yang sering kelihatan lusuh nggak terlepas dari sejarah kelahiran punk itu sendiri. Menurut Oscar, punk lahir di jalanan, dari orang-orang yang tertindas kayak gembel, buruh dan gelandangan yang benci sama kapitalis di Eropa. Mereka benci ama orang kaya yang serakah dan penindas orang miskin.

“Mereka akhirnya terbuang, sampe terus bikin komunitas sendiri. Tapi, kalo lantas dianggap kriminal, ya salah. Punk malah punya jiwa sosial dan solidaritas yang tinggi, terutama buat kelompoknya. Mereka juga memihak rakyat kecil,” jelas Oscar panjang lebar.

ANAK PUNK

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.
Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun kadang-kadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.
Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.
Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.
Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Kais Rejeki dari Jual Koran

Jumino merupakan salah satu penjual koran di lingkungan kampus Universitas Kristen Satya Wacana. Pria yang akrab dipanggil “Jum” ini memulai profesinya dengan berjualan koran di sekitar Jalan Jenderal Sudirman — sekarang lebih dikenal dengan “Pujasera”.
Ketika saya wawancarai, pria 30 tahun ini bercerita, “Tahun 1999, aku memilih pindah dari Pujasera dan jualan di UKSW, karena disini memberikan hasil (jualan) yang lebih baik. Tidak heran juga sih, karena UKSW punya banyak pelajar yang butuh informasi tiap hari. Selain itu, jualan di sini juga enak, tidak harus bayar. Cuma harus ijin ke pihak Kamtipus (Keamanan dan Ketertiban Kampus — Red).”
Disinggung soal prosedur tentang ijin, Jumino menjawab sambil tersenyum. “Ribet ga ribet tergantung ada tidaknya relasi dengan pihak Kamtipus di kampus.”
Jum bilang, dengan jualan koran, dia bisa cuci mata serta menambah pergaulan. Tidak hanya dengan mahasiswa, tapi juga dengan para dosen. “Aku jadi lebih pintar, karena aku bisa baca koran yang aku jual tiap hari, serta bisa diskusi banyak hal dengan mahasiswa maupun dosen,” tuturnya.
Pria yang hanya lulusan SMP ini menuturkan, “Mahasiswa membaca tergantung dengan hobi mereka. Kalau mereka suka olahraga, mereka baca olahraga. Kalau cewek, lebih banyak baca gosip selebriti atau mode.”
Ketika ditanya apakah Jum malu melakoni pekerjaan ini dan bergaul dengan para mahasiswa, ia tersenyum. “Aku nggak minder karena aku harus belajar dengan orang lain juga,” ucapnya.
“Aku hanya sedih ketika musim hujan tiba, karena aku tidak bisa berjualan sehari penuh. Itu berarti pendapatanku juga berkurang,” keluh pria yang juga piawai memainkan alat musik gamelan ini.
Penghasilan yang didapat Jum memang tak banyak: sekitar Rp 20-25 ribu per hari, tergantung jumlah majalah maupun koran yang dia jual setiap hari. “Rata-rata dalam sehari aku bisa jual lima belas eksemplar majalah atau koran. Tetapi aku juga pernah hanya bisa menjual enam eksemplar dalam sehari. Ababil Agency yang ada di sekitar (Jalan) Seruni yang akan menentukan pendapatanku hari itu, yaitu sebesar sepuluh persen dari bandrol,” terang Jum.
Uang Rp 20-25 ribu per hari memang bukan jumlah yang besar. Tuntutan keadaan yang memaksa Jum tetap bertahan untuk berjualan koran di lingkungan kampus. Suatu saat bila sudah ada modal, Jum berharap bahwa dia bisa mendirikan kios sendiri atau akan banting stir ke profesi lain. Jum memilih untuk mendirikan peternakan. “Itupun kalau modalnya ada,” pungkasnya.

Sekelumit tentang Pedagang Asongan


Sebuah hal yang remeh-temeh nan sederhana, tapi mampu membuat perenungan hidup yang mendalam bagi saya. Diawali dari pengamatan dan keheranan melihat pedangang asongan yang memanggul apa saja untuk dijajakan berkeliling kampung.
Mulai dari pedagang kompor minyak, pedagang mainan anak, pedagang baso, pedagang perabotan rumah tangga, dan pedagang asongan apa saja yang sering kita lihat. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah pedagang yang mengasong barang-barang yang berat dan besar. Jika dihitung-hitung dengan logika biasa saja, agaknya tak masuk akal. Pedagang asongan mana saja yang masuk kategori ini?
Coba, kita perhatikan pengasong POT BUNGA, masa pot bunga yang beratnya saja bisa mencapai puluhan kilogram itu, diasong kesana-kemari keluar masuk kampung, atau keluar masuk komplek perumahan. Ini sesuatu yang irrasional tapi nyata, karena mereka tetap saja ada dan exist. Lebih-lebih lagi kalau kita perhatikan pedagang yang mengasong daun pintu, padahal mana ada orang yang beli daun pintu terpisah dengan kusen-nya? Atau pengasong almari. Aduh…ampunn, itu lemari dan itu kursi dibawa-bawa kesana kemari, apa nggak capek? Kemudian bagaimana analisa bisnisnya?
Belum lagi kalau kita gali lebih dalam, sehari bisa laku berapa almari? Atau pertanyaanya dibalik, “ Untuk menjual sebuah Almari butuh berapa hari keluar masuk kampung?” , dan butuh berapa kilometer berjalan agar laku? Semuanya merupakan teka-teki dan misteri hidup. Karena pengasong yang lewat di depan rumah pada bulan lalu, belum tentu lewat lagi bulan ini. Ini yang membuatnya sulit dianalisa.
Kemudian dalam perenungan, saya berfikir, mengapa mereka tidak membuat brosur saja, kemudian membagikanya, kan enteng tidak perlu membawa beban berat begitu. Atau membuat Display di suatu tempat sebagai distribution point untuk produknya? Saya bisa pastikan jika pertanyaan ini kita lemparkan pada pelaku atau pengasong, mereka akan jawab, “Modalnya nggak ada.” Ya sudah, macet deh kalau begini, kecuali kita punya resources keuangan, dapat membantu mereka.
*****************
Berikut sebuah kisah nyata seorang teman saya sewaktu membeli kasur kapuk dari pedagang kasur kapuk asongan. Berawal dari rusaknya sarung kasur kapuk miliknya yang sudah dimakan usia, maka ketika pedagang asongan kasur kapuk itu lewat di depan rumah, terjadilah transaksi.
“Bang, saya punya kasur kapuk di rumah, sarungnya sudah rusak dan robek di sana-sini, bisa ganti sarungnya saja kan?” ujar teman saya pada si abang kasur.
“Bisa Pak, coba saja bawa kasurnya ke sini,” sahut abang kasur.
Setelah teman saya menunjukkan kasurnya, tanpa taksasi biaya, langsung saja kasur di belah oleh si abang kasur. Kemudian si abang kasur mengeluarkan sarung kasur baru dari kotak bawaanya. Setelah membandingkan ukuran kasur lama dengan ukuran sarung yang baru, si abang kasur buka bicara, “Maaf Pak, sarung punya saya lebih besar dibanding sarung kasur Bapak, tapi nggak apa-apa, bisa kita tambah nanti kapuknya.” ( Memang maksudnya jualan kapuk kan? )
“Memang berapa kapuknya per kilo Bang?” Tanya teman saya.
“Dua belas ribuan, biasa saya kasih murah deh!”
Akhirnya kasur yang terlanjur sudah dibelah, mau tidak mau diganti sarungnya dengan ukuran yang lebih besar. Dan apa yang terjadi?
“Gilaaa…butuh dua karung kapuk untuk mengisi sarung kasur itu,” ujar teman saya. Setelah hitung punya hitung, ia harus bayar Rp.400.000,- karena rupanya si kasur butuh kapuk sebanyak 30 kilogram, ditambah biaya reparasi.
“Untung tidak ditarik ppn, Kalau tahu begini ma, mendingan saya beli kasur baru,” ujar teman saya mengakhiri ceritanya. Ha ha ha ha ha, jangan dikira pedagang asongan itu ternyata cerdik lo!!!??
*****************
Pengasong KASUR dengan memakai mobil lain lagi. Biasanya pedagang ini musiman. Boleh dikata hanya sebagai pelarian sementara bagi orang-orang opportunis yang ingin menjajal sebuah bisnis. Sama halnya dengan pengasong yang lain, pedagang inipun jarang bertahan