Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kisah Ibu Penjual Daun Pisang

semburat kuning mentari subuh menemani langkah senjanya, kain krem bergaris merah melilit membungkus warna kelabu putih rambutnya. terseok berjalan menembus kesyahduan sisa subuh, berteman bakul bambu tua terbungkus kain jarik coklat lusuh. bakul tua berisikan lembar daun pisang yang sudah mulai menua di beberapa sisinya, dan beberapa sisir pisang raja yang nampak mulai kehitaman di beberapa bagiannya.

hari mulai hangat ketika tapak seoknya berhenti. tubuh senjanya didudukkan di atas trotoar kecil sebuah pasar yang masih bermimpi. keriput tangannya mulai membuka bungkusan bakul tuanya dan mengeluarkan semua barang dagangannya. mulailah ia meniti nafas menghitung detik menanti uluran tangan-tangan pembeli. hingga sisir demi sisir pisang berganti dengan sesuap nasi. hingga lembar demi lembar daun pisang menjadi pengobat perih.

ah, ibu tua,
di rumah tengah menanti seorang lelaki senja yang tak lagi bisa menjadi penyangga, karena majikan keji telah membakar segala impi. tubuh kokohnya tlah tercabut dari raga, langkah kaki citanya tlah sirna dari alam jaga, lenyap dihempas lautan amarah sang majikan di tanah seberang. bahkan untuk duduk pun tubuhnya tak lagi mampu menyambut.

kapitalis kian bengis, alam kaya hanya untuk penguasa, bahkan sedut nafas pun harus berebut.

ah, begitu banyak kisah terajut dan tersembunyi di balik tubuh-tubuh senja itu...

Kisah Pedagang Daun Pisang

Pagi itu terlihat seorang ibu tua berjalan menyusuri kebun pisang. Ia tersenyum menjalani rutinitas hidupnya sebagai seorang pedagang daun pisang. Dengan sedikit bernyanyi lirih ia mengambil satu persatu daun pisang kepunyaan haji Ali.
Terkadang ia hentakkan kakinya layaknya penari india sambil membawa bakul yang kini tlah penuh trisi daun pisang dan berharap ia dapat mendapat penghasilan.
Tak seperti biasanya ia berdagang di emperan itu, mulai dari pagi sekali hingga mejelang petang. Tidak lupa ia bersyukur pada Yang Maha Pencipta dengan melaksanakan kewajiban sholat yang lima waktu di sela-sela waktunya untuk berdagang.
dalam sehari penghasilannya tak menentu, kadang 5000,10.000, 15.000 atau lebih bahkan kalau lagi sepi yaaa.. ngelamun dech..
Pas jam 11 pagi tiba-tiba sepasukan Satpol PP menghampirinya, salah seorang dari mereka mengusirnya dan seorang lagi menendang bakul dagangannya hingga daun-daun pisang itu berserakan dan terinjak-injak. Ibu Tua menjerit, menangis, menciumi kaki komandan satpol agar tidak merusak dangannya. Namun malah cercaan dan hinaan yang ia dapatkan.
Bakulnya yang merupakan teman hidup selama ini telah berubah menjadi tempat sampah yang siap dibakar.
Ia meraung-raung menginginkan bakul itu. Hingga akhirnya ia terkulai tak berdaya melawan semua itu, hanya tetesan air mata yang mengiringi daun-daun pisang yang berserakan. Mungkin hanya do'a yang dapat terucap meratapi nasib yang tak berpihak...
Hanya satu kata penguasa yang terngiang ditelinganya yakni "Mewujudkan Masyarakat yang adil dan Makmur"
"Tuhanku,...... Aku serahkan Padamu Hidupku dan Matiku...."
Dalam butiran air mata ia memanggil nama-Nya....