mimpi adalah kisah hidupku

Kala itu, berbilang bulan bulan yang telah lalu
Hari yang kelam membungkus tubuhku ini
Yang lesu terlentang lemah tak berdaya
Dipenuhi doa dan harapan harapan diangan

Berangkatlah sang sukma menuju peraduan
Alam mimpipun segera datang menjemput
Kulihat diriku sedang melakukan perjalanan
Bersamaku beberapa teman-teman ikut didalamnya

Berjalan…kami berjalan seakan mengarungi lautan harapan
Wajah-wajah kamipun dipenuhi semangat
Meraih mimpi yang yang selalu mengusik hari hari
Tak sedikit keluhan dan desahan keluar dari mulut-mulut yang selalu membisu itu

Hingga tibalah kami memasuki gedung yang tinggi
Didalamnya terdapat tangga yang menghubungkan ke tiap tingkat
Kamipun menyusurinya untuk naik ketingkat selanjutnya
Berat sekali karena ternyata pada tangganya mengalir air yang deras

Terus-terus kami menaiki tangga itu
Satu demi satu diantara kami berguguran
Atau mungkin mereka berhenti ditiap tingkat yang ada
Karena yang kutahu jumlah kami makin sedikit

Dan akhirnya perjalanan itu menyisakan 3 orang
Pada puncak disebuah ruangan yang berjendela
Kulihat 1 orang berdiri didekat jendela
Ternyata orang itu terjatuh keluar, dan kulihat dibawah sana api menyala nyala seakan menyambutnya

Aku pun mundur surut beberapa langkah
Kulihat seorang kawan tak berani memasuki ruangan
Ia duduk berpegangan erat pada ujung tangga
Terlihatlah rasa pasrah diwajahnya

Diam-diam ketekuk lututku untuk bersyujud
Kusebut namanNya berulang kali
Segenap kepasrahanpun keluar dari jiwa ini
Entah berapa lama jiwa ini meratap dan bersyujud

Tiba tiba dihadapanku terpampang film kehidupan
Seakan sebuah tabir yang memberitakan kehidupanku
Satu persatupun babak dipertunjukan
Semua tampak seperti nyata dan jelas

Berbagai kesuksesan dan berbagai keindahan
Terpampang sangat jelas dan cepatnya
Hingga akhirnya seorang wanita hadir tersenyum
Ianya penuh jenaka dan coba menghiburku
Tanpa sabar akupun segera berucap
Ya Allah bukankah aku telah memilih si fulan
Dan akupun telah memintakan padaMu agar menjadi pendampingku
Aku juga telah menitipkanya padaMu melalui tiap pujian dan doa doa

Telah kuserahkan ia pada bimbinganMu
Agar ia siap mendampingiku kelak
Dalam menuntaskan cita dan harapan yang kupinta padaMu
Yang bukan lain adalah harapan umatMu jua

Mulutkupun tak henti henti melakukan penolakan
Aku bersikeras mempertahan  perasaanku padanya
Hanya dia dan hanya dia … Ya Allah
Akhirnya rasa gusarku membangunkanku

Aku diam termangu memikirkan apa yang telah terjadi
Rasa kantuku datang lagi hingga memuatku tertidur lagi
Segera mimpi itupun datang menghampiri
Sosok wanita itu dengan sabar menerangkan padaku

Dan katanya…..

Aku ada dan tercipta semata untuk menemanimu
Akulah yang akan menggenapkan tiap langkahmu
Kita wujudkan semua impian muliamu didunia ini
Dan yakinlah bersamaku semua itu kan terjadi

Lagi lagi aku memberontak dan kukatakan
Aku telah memilih si fulan  jadi pendampingku
Hanya dia…hanya dia ya Allah
Pemberontakanku membangunkanku kembali

Aku kembali diam termangu memikirkan semua itu
Tapi rasa kantuku yang berat membawaku tertidur kembali
Seperti sebelumnya mimpi itupun datang lagi
Kali ini aku diberikan pilihan dengan konsekuensinya

Pertama aku dipertemukan dengan si fulan pilihanku
Aku bersamanya dalam singgasana yang indah
Kulihat sekelilingku dipenuhi bangunan yang megah
Aku bahagia sekali didalamnya

Tapi kemudian adegan film lainya segera terbentang
Kali ini aku bersama sosok yang misterius itu
Dan sekarang aku tak bisa berkata kata lagi
Karena dunia nampak terang benderang
  
Segala sesuatunya mengeluarkan cahaya keperakan
Seakan dunia ikut hanyut didalam kebahagiaanku
Layar itupun segera menghilang
Sosok wanita itupun datang kembali

Dia terus mencoba meyakinkanku siapa ia
Sebelum hilang ia tinggalkan kata kata

Aku ada dibelakang masjid
Kutanyakan apakah kamu dekat dengan ustadt….
Jawabnya iya, dan akupun erat sekali hubunganya
Kebingungan dan keresahan membangunkanku terakhir kalinya

………………………………………………….
Kini, hari ini di tahun 2006 akupun masih bertanya
Benarkah semua itu, adakah wanita yang sadar akan penciptaanya
Sadar akan tugasnya didunia dan tahu persis siapa pendampingnya
Sebegitu dekatkah ia hubunganya dengan rabNya….

Tapi kalau itu tidak benar, kenapa sebagian kisahnya telah menjadi nyata !!!


Terima kasih Tuhan atas keadilan terhadap semua makhlukMu
Hingga ijinkan aku untuk sedikit tahu tabir keberadaanku
Dan Engkau ijinkan pula  aku untuk bercakap denganMu
Walau semua itu terjadi dalam sebuah tabir dalam tabir mimpi

kisah seorang pengamen kecil

11111111111111111111111Kulihat seorang anak kecil yang membawa sebuah gitar kecil dengan baju kusut, muka kusam, kaki hitam dan senyum yang keluar dengan memendam kelaparan diperut yang kecil itu. Hati ini menangis, hati ini bersedih dan hati ini sangat ingin memeluk dikau yang menggetarkan hati ini. Aku hanya bisa duduk dan memandangmu dibangku hitam dengan duduk bersanding orang banyak. Aku ciptakan sebuah puisi untukmu, untuk membantu semangatmu dan doamu kepada Ilahi Robbi.
Ketika aku senang, mereka merengek kelaparan,
ketika aku sedang asik makan, mereka lapar, mereka haus
ketika sang pagi datang dengan kesejukannya, mereka berlomba berlari untuk mendapatkan sebiji nasi,
wajahmu yang kusam, yang selalu kau tutupi dengan senyum indahmu dengan semangatmu,
aku menangis dalam hati ini…
kau yang selalu melantunkan nada-nada indah dan menghibur jutaan orang yang hendak pergi,
apa balasan mereka????? tangan yang mengatakan tidak, mereka yang pura-pura tidur…
kau yang selalu mengatakan “ikhlas bagimu, halal bagiku”
terenyuh hati ini, saat kau mengucapkan hal itu, hanya kehalalan yang kau cari….
tapi kehalalan itu rusak, hanya saja sedikit temanmu yang menyelewngkannya
sungguh malang nasibmu
pekerjaanmu mereka anggap hal yang hina…tapi tidak bagiku, kau mulia, kau pahlawan kecilku….
kau berkelahi dengan panasnya matahari, dengan debu dan asap kendaraan yang mematikan itu….
tetap semangat sahabatku…semoga kelak kau wujudkan cita-citamu….

Mereka di Jalanan Demi Sesuap Nasi

Fenomena anak jalanan, gelandangan dan pengemis memang menjadi masalah yang seolah tak pernah terhenti. Bahkan, dari beberapa hasil riset disebutkan bahwa setiap tahunnya, jumlah gelandangan dan anak jalanan semakin meningkat. Mereka mengaku tak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain mengemis atau meminta-minta.

Salah satu anak jalanan yang ditemui di kawasan jalan Marsda Adisutjipto, Sleman Yogyakarta, Fitriana mengungkapkan, sejak usia 5 tahun, ia telah diajak orang tuanya untuk terjun ke jalanan. Pada mulanya ia tak pernah tahu jika ritual meminta-minta yang diajarkan ibunya tersebut pada akhirnya menjadi pekerjaannya setiap hari hingga usianya kini 9 tahun.

"Dulu waktu masih TK saya cuman diajakin ibu ke jalan setelah pulang sekolah. Terus diajari 'ngemis' di perempatan lampu merah sampai sekarang. Tapi biasanya mulai siang karena paginya harus sekolah dulu," ujarnya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Kamis (19/2).

Fitri mengaku kebiasaan meminta-minta ini telah dilakukan orang tua beserta 2 orang kakaknya sejak ia masih sangat kecil. Sementara sang ayah bekerja tak tentu. Terkadang ayah Fitri hanya menjual pungutan botol plastik bekas air mineral. Kadang juga menarik becak milik
tetangganya. Sesekali, ayahnya juga ikut menjajakan koran di jalanan bersamanya. Keluarga Fitri mengaku harus melakukan ini karena ingin membiayai sekolah.

"Ya gimana lagi, keluarga saya memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Padahal saya dan kakak saya harus sekolah. Makanya harus ngemis atau jualan koran. Kadang kalau hujan kami juga menawarkan jasa lap kaca mobil atau motor. Kadang juga sekedar membersihkan debu di kendaraan. Pokoknya apa saja asal dapat duit," katanya.

Menurutnya, pihak sekolah juga mengetahui jika ia sering mengemis usai pulang sekolah. Namun hal tersebut sama sekali tidak dilarang oleh gurunya. "Ibu guru tau, teman-teman juga tau. Tapi saya gak pernah dilarang. Yang penting tetap masuk sekolah saja," ujarnya.

Penghasilan dari meminta-minta di jalanan diakui cukup lumayan. Jika sedang mujur, ia bisa mengantongi uang hingga Rp100.000 tiap harinya. "Tapi gak pasti juga, kadang sehari cuma dapat Rp30.000-Rp50.000. Lumayan bisa untuk makan dan bayar sekolah," katanya.

Sementara itu, orang tua Fitri yang tak mau menyebutkan nama mengaku terpaksa melibatkan anaknya untuk ikut mencari uang di jalanan. "Sudah miskin mbak, mau cari kerja apa lagi kalau bisanya cuman ngemis. Dulu sih pernah jualan, tapi yo malah rugi kok," akunya.

Dikatakannya, lingkungan sekitar tempat tinggalnya memang kebanyakan gelandangan. Tetapi ia membantah jika tergabung dalam sindikat besar. "Gak ada bos-bosan. Ya cuman bareng teman-teman aja. Anak saya juga gak tak paksa dan pagi mereka tetap sekolah," katanya.

Beberapa kali, ia dan keluarganya juga kerap dibawa oleh satpol PP dan dibawa ke rumah singgah. Tetapi tak lantas membuatnya jera. "Ya mau gimana lagi, kalo abis dari rumah singgah juga gak bisa cari duit lagi buat makan dan sekolah. Jadi ya tetap ngemis aja. Kalau ditangkap itu sudah biasa kok," imbuhnya.

Kerasnya kehidupan jalanan adalah santapan mereka sehari-har

Anak Sekecil Itu...
Desy Susilawati
Kampleng. Bagi bocah yang mengaku berusia 14 tahun itu, tampaknya Kata itu terdengar istimewa. Maka, dia pun memilih kampleng yang bermakna tampar dalam bahasa Jawa itu sebagai namanya. Dia sama sekali tak bisa mengingat nama pemberian orangtuanya. Pun. asal usulnya.
"Sejak orangtua saya menghilang lima tahun lalu, saya hidup di jalanan seorang diri. Sampai sekarang, saya tidak menemukan di mana orangtua saya. Kehidupan keras pun harus saya jalani. Agar bisa bertahan hidup, saya mengamen di sekitar Pejaten," ujar Kampleng.
Di jembatan lampu merah Pejaten, Jakarta, berteman gitar kayu kopong dan sebatang rokok yang diisapnya dalam-dalam, Kampleng menghabiskan sisa malam. Sesekali tubuh kurusnya bergidik saat embusan angin malam menusuk.
Ketika jam dinas usai, Kampleng lebih suka pulang. Jangan membayangkan dia bakal mendatangi tempat tinggal nyaman dan hangat. Rumah untuk Kampleng adalah kolong jembatan Pejaten bersama puluhan anak jalanan yang lain.
Di sanalah, mereka membangun tempat singgah yang terbuat dari bedeng yang beralaskan kardus dan ditutupi spanduk. Cahaya cukup dari pendar lampu petromaks. Nasib Agus (15 tahun) tak lebih baik. Seperti Kampleng, dia tak mengenal orang tuanya dan hidup dari jalanan. Mungkin, dia sedikit lebih beruntung ketimbang Kampleng karena dia tak harus mencari nama yang tepat untuk dirinya.
"Saya nggak pernah kenal namanya orang tua. Dari dulu, saya sudah ada di jalanan, mungkin dibuang. Dulu sih saya pernah tinggal di panti, dulu banget waktu kecil. Orang panti juga yang kasih sayanama," ujarnya. Muhammad Rendi boleh jadi bernasib lebih baik. Dia punya nama dari orang tuanya dan masih memiliki ibu. "Ayah saya sudah meninggal," ujarnya lirih.
Namun, kerasnya kehidupan jalanan juga santapannya sehari-hari. Saat ditemui, Rendi seda/ig terjaring razia anak jalanan dan gepeng di Kota Bogor. Untuk dia, urusan tertangkap petugas Satpol PP tak lagi baru.Kapok? Tidak, tentu saja. "Saya sudah di jalanan selama delapan tahun." ujarnya. Ini berarti nyaris separuh lebih dari usianya yang sekitar 14 tahun itu dihabiskan di jalanan.
Napasnya pun telah menyatu dengan segala bentuk kekerasan yang terbentang di jalanan. Mulai dari aksi ciduk petugas hingga bayangan kejahatan yang dilakukan sesama pelaku jalanan. . Untuk Hendra, hidup di jalanan seolah menjadi bagian dari hidupnya. Ia Berada di jalan sejak usia delapan tahun. Dia pun telah merasakan keganasan itu hingga kini, saat usianya 18 tahun.
Dia tak akan jengah bila menyaksikan pertumpahan darah bisa terjadi hanya gara-gara tersenggol. Kekerasan fisik juga dialami. Bedanya, ini tak terjadi antara temannya sesama anak jalanan. "Kebanyakan s/hdari preman." ucapnya.
Bagi Agus, anak jalanan paling beruntung sekalipun tetap sulit menghindari perlakuan buruk semacam itu. "Orang baik, orangjahat, semua ada di jalanan. Nggak sedikit anak kecil yang sehari-hari hidup di jalanan. Mereka tinggal tanpa perlindungan dan nggak juga bisa melindungi diri sendiri. Kata orang-orang, jalanan tempat kejahatan merajalela. Jadi, wajar kalau kejahatan apa saja bisa menimpa anak jalanan. Yang bikin saya heran, justru orang-orang hebohnya setelah ada berita di koran dan televisi," ujar Agus.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo miris. Kendati, untuk dia, masalah anak jalanan merupakan hal yang umum di kota besar, bukan berarti masalah semacam itu akan dibiarkan berlarut-larut. "Perlu penanganan serius dari sejumlah pihak terkait," katanya.
Fauzi mengakui, penanganan anak jalanan yang dilakukan oleh DKI masih belum optimal. "Namun, kami berusaha menyediakan rumah-rumah singgah untuk mereka," ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Sosial DKI, Budihardjo. Dia tidak menampik bahwa fasilitas penanganan anak jalanan sangat minim. "Kapasitas sarana pembinaan tidak sesuai dengan jumlah anjal (anak jalanan) yang ada," ujarnya.
Namun, ingatan seorang Kampleng yang sudah beberapa kali keluar masuk panti sosial di Kedoya, Jakarta Barat, tentang pembinaan di panti jauh dari menyenangkan. "Seperti hidup dalam neraka," katanya."Saya dan teman-teman yang ketangkap dimasukkan ke dalam sel. Kita juga dipukuli dan diinjak-injak oleh petugas panti. Bahkan, rambut kita saja dibotakin. Tenaga kita juga diperas di sana. Belum lagi jatah makan kita yang hanya makanan sisa. Pokoknya, saya nggak tahan hidup di sana karena merasa di neraka. Akhirnya, saya dan teman-teman melarikan diri, ya walau suka ketangkap juga. Ibaratnya, kita main kucing-kucingan."
Keprihatinan serupa turut disuarakan Seto Mulyadi, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Dengan jumlah anak jalanan 50 ribu di DKI Jakarta. Seto menyarankan pemerintah agar membangun pusat pengembangan kreativitas anak jalanan. Jangan hanya ditangkap dan membuat anak-anak jalanan tersebut seolah berada di penjara. "Buat anak-anak itu lebih aman berada di pusat pelatihan, harus ada bimbingan manusiawi, rohani, dan psikologis, terutama psikologis dan dinamika anak jalanan harus didalami," ujarnya.
Jika anak-anak itu merasa terpaksa dibawa oleh pemerintah untuk dibina, kata Seto, tak heran jika mereka melarikan diri dari panti-panti atau tempat penampungan anak jalanan. "Ada gula, ada semut. Jalanan merupakan gula bagi mereka. Buat pusat pelatihan seperti gula," tegasnya.
Di samping itu, Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, fenomena kekerasan terhadap anak meningkat. Fenomena ini, tuturnya, merupakan konsekuensi dari melonjaknya angka anak jalanan yang ada di 12 kota besar Indonesia.
Pada akhir 2009 lalu, jelasnya, 12 lembaga perlindungan anak mitra kerja Komnas Perlindungan Anak merilis bahwa terdapat 168 ribu anak
jalanan yang ada di 12 kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Angka ini melonjak sekitar 73 ribu dibandingkan pada 2008 lalu yang mencatat setidaknya terdapat 95 ribu anak jalanan.
Umumnya, papar Arist, mereka pernah mengalami kekerasan. "Macam-macam kekerasan mulai dari seksual, seperti disodomi orang dewasa, diperkosa oleh teman mereka sendiri, pembunuhan, hingga pemukulan," ungkap Arist yang ditemui pada Jumat (15/1).
Selain itu, Arist menduga bahwa banyak anak yang menjadi korban perdagangan organ tubuh. Ia pun mencontohkan Bunga (bukan nama sebenarnya). Bocah berusia 12 tahun ini ditemukan di Tokyo, Jepang, dengan kondisi kehilangan ginjal dan lidah terpotong.
Prasetyo (21) berkonsentrasi. Tangannya sibuk membubuhi sepatu putih itu dengan cat acrylic biru. Di
tangannya, polos sepatu itu disulap menjadi biru dengan motif bunda membuai anaknya di bagian depan atas sepatu.
Aktivitas mi dilakukan Tyo, sapaannya, saban mendapatkan pesanan. Biasanya, satu bulan dua kali order. Sehari-hari, ia biasa menjadi juru parkir di jalan Bukit Duri, Jakarta Selatan. "Kalau senggang, saya nongkrong di yayasan," ungkap Tyo merujuk pada Yayasan Annur Muhiyam di Jl Bukit Duri Tanjakan Batu. Tebet, Jakarta.
Kendati sejak kelas 2 SMP sudah di jalanan. Tyo mengaku beruntung. Setidaknya, sejak enam tahun lalu, waktunya kia i sedikit di jalanan.
Ia ditemui saat Menteri Sosial Salim Segaf Kl Jufrie bersama Dirjen Yanrehsos Mkmur Sunusi mengunjungi Yayasar Himmata di Plumpang, Jakarta Utara, baru-baru ini. Mereka memberikan bantuan kepada kedua orang tua Ardiansyah (9 tahun) yang tewas akibat dimutilasi Babe (Bekuni).
Kementerian Sosial menganggarkan Rp 184 miliar untuk pelayanan kesejahteraan anak, termasuk untuk anak jalanan.
Tyo hanya bisa berharap pemerintah memperbaiki nasib anak jalanan. "Jangan lagi terjadi korban."
Kampleng agaknya menyimpan asa serupa. Dulu, Kampleng hidup sebatang kara. Kini, dia memiliki keluarga baru. Dalam perjalanan hidupnya. Kampleng bertemu dengan Jujung dan Abay, anak jalanan lainnya. Ketiganya menjalin persahabatan erat layaknya saudara sekandung.
"Sekarang ini, saya tidak hidup sendiri lagi. Ada Jujung, Abay. dan teman-teman lainnya di sekitar saya. Saya juga punya Bang Syahrul yang sudah saya anggap sebagai abang kandung saya. Di bawah kolong jembatan, kita semua hidup menyatu. Kurang lebih 20 orang tinggal di sini," ujar Kampleng.
Jalan hidupnya mungkin saja tak banyak berubah. Namun, mata Kampleng tampak lebih bersinar. Dia
merasa telah menemukan tempat berlabuh. Dia menemukan kehangatan di antara teman-temannya senasib.
Di sudut lain, di bawah naungan jalan tol Pondok Pinang, Agus tampak sibuk membenahi barang dagangannya berupa bergelas-gelas air kemasan. Hujan deras membuat dagangannya tak lekas laku.
Sambil kembali membenahi dagangannya, mata Agus tak lepas dari rombongan pengamen di seberang jalan tempatnya duduk.
"Kalau punya pilihan, tidak mungkin ada orang yang mau hidup di jalanan. Mbak. Sayangnya, saya bahkan tidak bisa membayangkan ada kehidupan lain selain di tempat ini," ujarnya.
Dia pun bergegas mengejar metromini di simpang lampu merah, kembali menjemput pembeli. Alunan lagu Iwan Fals yang dilantunkan para pengamen itu terdengar lirih, "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu...." cOl/cO8/cO9/cl3/cl6 ed endah

Pengemis Jalanan

Pengemis Jalanan dapat diartikan orang yang meminta-minta dipinggir jalan. Kita sering menjumpai mereka ini mangkal di depan-depan pasar tradisional sambil menengadahkan tangan dengan muka yang menghiba. Bahkan tak jarang kita menjumpai mereka di depan Masjid Istiqlal dan Masjid Raya Pondok Indah Jakarta Selatan. Ada yang berani Mengembalikan mereka ke kampung halamannya?
Ironis memang. Disaat orang sholat Jumat untuk memenuhi perintah-Nya, mereka malah mengemis. Pengemis laki-laki tidak sepatutnya melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma agama ini. Bagaimana bisa kita Mengembalikan Jati Diri kalau banyak anak Bangsa yang berprilaku seperti ini?
Jadi sudah sepantasnya bila MUI Jawa Timur mengeluarkan Fatwa Haram mengemis dan di amini juga oleh MUI Pusat. Bahkan Pemda DKI sudah mengeluarkan Perda No. 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Pada intinya pasal itu memberikan sangsi bagi kita yang kedapatan memberikan uang kepada pengemis dan saksi utama tentu saja kepada pengemis itu sendiri. Ini Perda. Tujuannya untuk membuat Bangsa ini lebih dihargai.
Namun terlepas dari pro-kontra yang ada, kita kembalikan kepada kita semua tentang bagaimana seharusnya kita menyikapi para Pengemis. Toh, kenyataannya memang masih banyak sekali saudara-saudara kita yang memang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Dan ini adalah tugas Departemen Sosial untuk membina mereka agar nantinya mereka dapat hidup mandi dan meninggalkan dunia Pengemis Jalanan. Artikel lengkapnya dapat ibu-ibu baca di postingan yang berjudul Mengembalikan Jati Diri Bangsa

curahan seorang sahabat pengamen

Pernahkah rumah Anda didatangi pengamen? Bagaimana perasaan Anda terhadap mereka? Bagaimana sikap Anda terhadap mereka?

Pengalaman pahit dialami oleh teman saya. Dia merasa sangat sakit hati terhadap sikap pengamen. Pada siang hari saatnya tidur siang, pengamen menyayikan lagu ST 12 di depan pintu. Genjrengan dan suaranya memekakkan telinga dan tidak pergi-pergi. Teman saya tadi terbangun dan menyuruh anaknya mengulurkan dua ratus rupiah pada kantong plastik si pengamen. Tidak diduga dan tidak dinyana-nyana pengamen itu melempar dua keping uang seratus rupiah itu dan pergi.

Teman saya sakit hati dibuatnya. Dia merasa sikap yang dilakukan oleh pengamen itu adalah sebuah penghinaan. Teman saya yang saya ceritakan tadi adalah orang yang bertekad kaya. Sekecil apapun uang dia menaruh penghargaan besar. Dia berpendapat bahwa uang yang besar terdiri dari uang-uang kecil yang terkumpul. Selain karena alasan penghormatan terhadap unga, alasan lain teman saya adalah karena sehari bisa lebih dari lima pengamen datang di rumahnya. Jika sehari ada lima pengamen maka jika setiap pengamen diberi dua ratus rupiah saja maka sehari keluar uang seribu. Bagaimana jika satu bulan?

Kemudian, kenapa pengamen tersebut membuang uang dua ratus rupiah? Mungkin karena pengamen juga merasa terhina karena tampangnya yang ganteng, genjrengannya yang ciamik, dan suaranya yang nyaring hanya dihargai dua ratus perak.

Tentu kita masih ingat lagu Meggi Z, “Semut pun kan marah dan berusaha membalas bila dia dihina dan diinjak” apalagi pengamen?

Pengamen, sesungguhnya adalah penghibur. Mereka datang di rumah kita untuk menawarkan jasa dan kemampuannya menyayi untuk menghibur hati kita yang mungkin sedang gundah gulana dihimpit tagihan.

Pengamen sebenarnya sejajar dengan penyayi-penyayi kafe, orkes melayu, grup band, yang berusaha menawarkan jasa hiburannya. Hanya tempat dan upahnya saja yang berbeda. Upah inilah yang jadi biang masalah. Jika penyayi panggung dan group band upahnya sudah jelas dan disepakati di awal pementasan, tidak demikian halnya dengan pengamen. Tarifnya tidak jelas. Mereka dibayar tergantung sisa receh di dalam saku dan sesuai keikhlasan 'pemirsanya'.

Keprofesionalan adalah hal yang membedakan antara pengamen dengan profesi penghibur yang lain. Seringkali pengamen tidak hafal satu lagupun, hanya mengulang-ulang reff melulu. Mereka seakan mengamen hanya ingin mencari uang dengan mudah tanpa bekerja lebih keras. Tapi tentu saja, tidak semua pengamen demikian, ada juga pengamen yang profesional, menyanyi dengan sungguh-sungguh, dengan kualitas sajian yang sungguh-sungguh pula.

Bagaimana menyikapi pengamen? Mari kita menyikapi pengamen sebagaimana mereka menampakkan dirinya. Pengamen seringkali menampakkan dirinya antara sebagai penghibur, pengemis, dan preman.

Pengamen profesional kita hargai keprofesionalannya, yang bermental pengemis kita hargai usahanya, tapi yang pengamen yang preman kita boleh memanggil hansip dan menyerahkannya ke pihak yang berwajib.

Warga perkotaan terutama perumahan paling takut terhadap pengamen jenis ini. Kalau mereka berbuat apa-apa terhadap pengamen, mereka takut mendapat ancaman di kemudian hari. Hal ini terjadi karena sistem pertahanan kampung di perumahan tidak terjadi. Tetangga yang tidak saling kenal maka tidak mungkin saling dapat menjaga. Untuk itu kumpul-kumpul dengan sesama warga dalam sebuah wilayah sangat perlu diselengarakan untuk membentuk sistem pertahanan kampung demi mewaspadai ulah pencuri, pencoleng, preman, dan pengamen berlagak preman.

Pengamen Juga Manusia

Pengamen, yang selalu dapat kita jumpai tiap hari di jalanan,buskota, rumah makan, sampai kereta api, seperti menempati posisi yang tidak menguntungkan pada kelas sosial masyarakat.
Bagi mereka, pekerjaan mereka sama mulianya dengan profesi lainnya. Dan oknumlah yang melahirkan konotasi negatif dari pengamen. Sama seperti konotasi negatif bagi polisi, pejabat, pengusaha, seniman, dokter, guru yang diimbaskan oknum. Namun  sebagian masyarakat seperti tidak mau tahu, profesi ini tetaplah bernada miring, fals. Yang mereka tahu, pengamen adalah kumpulan manusia malas, pemaksa, dan amat mengganggu.
Di Jakarta, jumlah pengamen mencapai ribuan orang. Sebagian dari mereka menyadari konotasi miring yang ditujukan kepada mereka. Lalu mereka biasanya membentuk kelompok atau kantung-kantung kesenian jalanan sebagai semacam pembelaan. Salah satu komunitas yang terkenal dan sudah punya basecamp permanen adalah Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bulungan pimpinan Anto Baret. Di Bekasi Barat ada komunitas pengamen bernama Penyanyi Bekasi Barat (PBB), kemudian di daerah Bendungan Hilir ada yang namanya “Anak Benhill” sementara di daerah jalan ImamBonjol depan gedung Gani Jemat “Anak Bonjol”. Setiap komunitas biasanya punya kegiatan masing-masing, ada yang menggelar arisan ada juga yang bikin grup Band kecil-kecilan.
Pengamen-pengamen yang tergabung dalam komunitas semacam itu bahkan mengaku mereka bukan tipe pengamen yang membawakan lagu asal-asalan atau meminta uang secara paksa kepada penumpang. Meski beberapa dari mereka bertampang seram dengan tubuh penuh tato, tetapi mereka tetap berusaha ‘tampil’maksimal di depan penumpang. Mayoritas suara mereka juga bagus-bagus.
Cara ‘ngamen’ di Jakarta memang macam-macam, ada yang hanya bertepuk tangan sembari menyanyi dengansuara tak jelas juntrungannya. Ada yang berorasi membaca puisi, ada yang main sulap dan sebagainya. Tapi kelompok pengamen yang mangkal di sekitar terminal Blok M mempunyai klasifikasi sendiri mengenai orang-orang yang boleh disebut pengemen. “Yang disebut pengamen bagi saya bukan cuma nyanyi, dia boleh saja membaca puisi atau kalau perlu bermain drama di atas bis, istilahnya  showbiz atau show diatas bis, dan harus menghibur. Jika tidak menghibur seperti cuma tepuk tangan atau berdendang dengan botol plastik kosong yang ditepuk-tepuk, itu bukan sih pengamen Mas ” kata Reno, salah satu pengamen terminal Blok M.
Cherry, salah seorang pengamen yang biasa mangkal di  Bendungan Hilir mengaku sebal dengan ulah orang-orang mengaku pengamen dan minta uang secara paksa “Mereka itu bukan pengamen, tapi kriminal yang pura-pura jadi pengamen.” kata Cherry tegas.
Yang lebih ekstrem, ada sekelompok orang yang berlagak pengemen di biskota, tapi kemudian bukannya menjual suara malah mengaku baru keluar dari penjara. Buntutnya minta uang dengan nada ancaman kepada penumpang.
“Terus terang mas, saya dan teman-teman pernah gebuki orang model begitu waktu mereka lewat jalur kita di Benhil, biar kapok mereka!” lanjut Cherry  gemas.
Keberadaan orang-orang semacam itu memang meresahkan, bukan saja meresahkan penumpang tapi juga meresahkan para pengamen ‘asli’ yang identitasnya merasa tercoreng. Akibatnya masyarakat mengeneralisasi profesi pengamen.
Padahal sekarang ini tak sedikit pengamen yang berhasil menjadi penyanyi terkenal, sebut saja Iwan Fals, Didi Kempot, Angel Mama Mia, dan yang paling hot,  Januarisman atau Aris, yang sekarang menjadi kandidat kuat pemenang Indonesia Idol 2008. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menaklukan kerasnya jalanan Ibukota. Dan yang jelas ini juga bukti, bahwa stereotip pemalas, tukang minta-minta dan pemaksa adalah tidak sepenuhnya benar dialamatkan kepada mereka. Diantara mereka ada yang benar-benar berjuang setengah mati hanya demi menyambung hidup.