Kisah Pejuang Anak Kaum Miskin Bersekolah

“Laskar Pelangi” karena tertarik kepengen nonton filmnya. Sebelumnya novel “Laskar Pelangi” sudah lebih dulu terkenal karena masuk jajaran novel “best seller”. Temen yang sudah lebih dulu baca mengingatkan, bacalah novel ini saat perasaan hati sedang senang. Ini mengindikasikan bahwa novel ini termasuk kategori bacaan berat. Tapi gw melanggar imbauan temen gw itu. Gw baca novel ini saat otak gw lagi “butek” karena kurang tidur. Dan ternyata, apa yang dibilang temen gw itu salah. Bagi gw novel ini “sangat renyah” dan sama sekali tidak berat.

Latar belakang kisah “Laskar Pelangi” yang menceritakan kehidupan di seputar sekolah kaum miskin yang reyot di Belitung terasa tidak terlalu aneh bagi gw. Sekolah seperti itu banyak bertebaran di daerah terpencil di Indonesia. Seperti: sekolah anak transmigran di Tulang Bawang Lampung (lihat: perjuangan anak transmigran).

Yang menarik adalah novel ini berisi cerita kehidupan masa kecil penulisnya (?) saat duduk di bangku SD, SMP hingga memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Bagi gw, daya tarik buku ini adalah pada daya juang anak-anak kaum miskin untuk meraih kehidupan di masa depan yang lebih baik melalui pendidikan.

Setelah membaca habis novel ini, bagian yang paling menarik justru terdapat pada Bab I: Sepuluh Murid Baru. Dalam bab ini diceritakan perjuangan Bu Mus Dan Pak Harfan bagaimana mendapatkan 10 murid SD kelas satu pada tahun ajaran baru agar sekolah Muhammadiyah di Belitong tetap dapat bertahan. Karena bila mendapat murid kurang dari 10, maka sekolah itu akan ditutup.

Setelah Bab ini, bab selanjutnya bagi gw seperti bernostalgia berkunjung ke Belitung. Tentang kondisi lokasi tambang timah dan kehidupan masyarakatnya. Tentang kesenjangan sosial antara karyawan PN Timah dan penduduk sekitar yang bak “langit dan bumi”. Tentang perjuangan 10 murid SD Muhammadiyah hingga terlepas dari kemiskinan. Dan tentang kesuksesan sang penulis mencapai cita-citanya dari anak buruh tambang yang miskin hingga mendapat bea siswa sekolah ke perguruan tinggi.

Rasanya tidak aneh kalau banyak yang suka dengan novel ini. Karena novel yang mengangkat kisah pahit getir kehidupan masyarakat bawah yang ditulis secara gamblang, tanpa “tedeng aling-aling” dan mengalir seperti air, sesuai apa pemikiran penulisnya.

Sehabis membaca novelnya, rasanya tidak sabar menantikan bagaimana jadinya bila kisahnya diangkat ke layar lebar. Melihat kembali setting Belitung belasan tahun silam. Dan keindahan edensor seperti yang diungkapkan penulisnya. Apakah kesan yang timbul bagi penonton tentang keindahan edensor sama dengan yang dikisahkan Andrea Hirata, sang penulis novel ini.

anak sekolahtransmigran
Perjuangan Anak Transmigran

Para remaja ini baru pulang. Setelah sejak siang berkutat dengan pelajaran di kelasnya. Mobil angkutan ini adalah satu dari dua mobil angkutan umum yang melayani murid sekolah ini. Sekilas para remaja belasan tahun ini tak berbeda dengan pelajar SMA lainnya, namun sekolah mereka berbeda dengan sekolah lainnya di kawasan ini, karena mereka bersekolah secara gratis.
Dua dari tiga remaja ini adalah Puspita dan Rukminah. Sejak delapan bulan yang lalu, keduanya bersekolah tanpa dipungut uang SPP dan uang bangunan, di sebuah Sekolah Menengah Atas di Tulang Bawang, Lampung.
Tugas-tugas rumah tangga yang sedang diselesaikan ini dikerjakan tanpa paksaan dari pemilik rumah. Mereka melakukannya sebagai balasan atas kebaikan pemilik rumah yang memperbolehkan mereka tinggal di rumah ini.
Mereka tinggal di rumah ini karena rumah mereka jauh dari sekolah. Ditambah kondisi jalur transportasi yang buruk, membuat jarak rumah mereka dengan sekolah ini sulit ditempuh. Idealnya, mereka tinggal di asrama. Namun karena keterbatasan dana, pihak yayasan pengelola sekolah menitipkan mereka kepada warga setempat, ataupun pondok-pondok pesantren.
Sebagai kompensasinya, murid-murid sekolah yang dititipkan ini, membantu meringankan pekerjaan pemilik rumah, baik di rumah, di kebun, maupun di toko.
Ini adalah Asnawi. Ia juga murid SMA gratis di Tulang Bawang, Lampung. Pagi hari sebelum masuk sekolah, pemuda berusia 17 tahun ini, membantu menyadap, dan merawat pohon karet di perkebunan milik bapak asuhnya. Ia merupakan anak ke-enam dari tujuh bersaudara yang bercita-cita menjadi polisi. Orangtua Asnawi merupakan peserta program transmigrasi pada era tahun 80-an.
Sekolah gratis ini didirikan atas gagasan sekelompok orang yang tergabung dalam Himpunan Masyarakat Peduli Transmigrasi Indonesia (HMPTI). Mereka prihatin, karena taraf hidup keluarga transmigran di tempat ini masih jauh dari harapan.
Sekolah gratis yang didirikan pada tingkat Sekolah Menengah Atas, karena banyak anak-anak yang putus sekolah pada tingkatan ini. Yang dapat bersekolah disini adalah mereka yang berasal keluarga transmigran tidak mampu, muridnya berjumlah 140 orang.
Meski telah berdiri sejak dua tahun lalu, sekolah ini belum memiliki gedung sendiri. Mereka meminjam gedung sebuah Sekolah Dasar Negeri di Desa Banjar Agung.
Walau tidak dipungut bayaran, menurut Muslihuddin, Kepala Sekolah SMA HMPTI, antusiasme murid untuk mereguk ilmu di sekolah ini sangat tinggi. Karena inilah satu-satunya pilihan yang mereka miliki untuk menggapai cita-cita.
Mendapatkan pendidikan merupakan hak setiap warga negara yang dijamin undang-undang dasar. Namun tak dapat dipungkiri, belum semua warga negara dapat menikmati pendidikan yang layak. Keberadaan sekolah gratis anak-anak transmigran ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Karena siapa tahu, para pemimpin bangsa ini kelak, merupakan lulusan sekolah semacam ini. (Lengkapnya lihat: www.indosiar.com/news/horison)

Kisah Penjual Kayu

Pada suatu desa di tepi hutan, hidup seseorang yang hidupnya sebagai penjual kayu. Hidup yang dijalaninya penuh dengan keikhlasan, rasa bersukur yang tinggi dan rasa berserah tinggi terhadap Allah. Sehingga dalam keluarganya yang sederhana selalu dalam ketentraman dan kebahagiaan.

Pada suatu hari terjadi malapetaka di kota terdekat, yaitu terjadi banjir dan beberapa rumah penduduk kota yang roboh atau hilang. Mendengar ini si penjual kayu menjadi prihatin dan bersimpati untuk menyumbang kayu kepada korban banjir tersebut. Akhirnya dikumpulkan kayu2 hutan yang ada didekat rumahnya dan dikirim kepada korban banjir tersebut.

Ada juga seorang pengusaha kayu yang melihat ternyata si korban banjir yang membangun rumahnya dengan menggunakan kayu-kayu yang bagus mutunya. Dan pengusaha kayu mendatangi seorang korban banjir tersebut. “Kayu-kayu anda sangat bagus sekali, dari mana membelinya ? saya juga mau membeli kalau bapak mau menunjukkan penjualnya”.

Si korban banjir akhirnya menceritakan asal-usul kayu tersebut. Lalu keduanya membuat kesepakatan yang mereka buat.
Sang korban banjir akhirnya mendatangi si penjual kayu, dan menyatakan minta bantuan lagi kayu dengan alasan masih kurang untuk membangun rumahnya tersebut. Dan si penjual kayu juga memberikan sesuai kebutuhan si korban banjir.
Beberapa kali si korban banjir meminta kayu lagi, si penjual kayu juga agak heran, kenapa masih kurang terus. “Karena kayu-kayu kemarin juga diminta tetangga saya yang rumahnya juga rusak oleh banjir tempo hari” itu alasan dari si korban banjir.
Meskipun diliputi rasa penasaran, si penjual kayu tetap saja memberikan kayu sesuai permintaan si korban banjir, karena merasa kasihan kalau rumahnya belum selesai juga. Sementara itu si penjual kayu juga berusaha tahu apa yang terjadi dengan rumah si korban banjir tersebut.

Dan akhirnya si penjual kayu mengetahui bahwa ternyata kayu-kayu yang disumbangkan tersebut dijual kepada si pengusaha. Tetapi ternyata si penjual kayu tidak menjadi geram atau marah.

Pada hari berikutnya si korban banjir datang lagi ke si penjual kayu dan menyatakan masih butuh bantuan kayu lagi. Dengan alasan untuk menyelesaikan ruangan dapurnya. Dan si penjual kayu bersedia memberikan bantuan tetapi si penjual kayu membutuhkan tenaga untuk mengurus kayu-kayu yang diminta. Si korban banjir menjanjikan akan mengirim orang untuk membantu si penjual kayu.

Selanjutnya si penjual kayu mempersiapkan lahan-lahan disekitar rumahnya. Pada waktu tenaga-tenaga yang dikirim oleh si korban banjir datang, mereka disuruh untuk membersihkan lahan. Dan setelah selesai membersihkan lahan, si korban banjir menanyakan kapan kayunya akan diangkut. Sipenjual kayu menyuruh untuk datang lagi seminggu lagi.

Setelah seminggu sesuai yang dijanjikan oleh si penjual kayu, si korban banjir datang dengan membawa tenaga untuk mengangkut. Tetapi oleh si penjual kayu, orang-orang tersebut malah disuruh lebih dulu untuk menanam biji-biji kayu pada lahan yang sudah dipersiapkan seminggu sebelumnya. Setelah selesai pekerjaan tersebut, dengan tidak sabar si korban banjir menanyakan tentang kayu yang telah diminta sebelumnya.

“Mana kayu yang akan disumbangkan kepada kami, sementara saya juga sudah siapkan orang-orang untuk membantu mengangkut” tanya si korban banjir.
“Kayu-kayu sudah cukup saya kirim untuk membantu bapak sehingga hutan di sekitar menjadi habis, kalau memang mau kayu lagi ya bapak harap sabar untuk menunggu kayu yang baru saja kita tanam tadi” jawab si penjual kayu.

hidup sederhana, bukan miskin

sayang, aku tak bisa berjanji akan membuatmu hidup penuh dengan kegelimangan harta. Aku hanya menawarkan hidup sederhana, dengan segudang cita dan semangat yang kupunya. Semoga itu dapat membahagiakan kita, setidaknya anak-anak kita bisa belajar dari pilihan-pilihan hidup yang kita ambil”

Sesaat saya terdiam, merenungi kata yang kurangkai sendiri. Kata-kata ini memang belum menemukan pelabuhan yang resmi lagi, pelabuhan yang mengikat biduk cinta dan pengharapan. Tapi, aku masih menantikan ia hadir di akhir pendakian gunung besar saat ini.
Sejatinya, hidup ini adalah serangkaian pilihan. Itulah yang dulu tertanam dan sampai saat ini membuat saya dewasa. Bukan sebagai apologi atas segala pilihan yang dinilai salah oleh orang-orang. Menjadi Diri Sendiri adalah sesuatu yang terkadang bagi sebagian besar orang sulit, termasuk saya.
Sekian gunung mengajarkan saya untuk pandai-pandai memilih jalan. Ya, ini salah satu hikmah masuk PHIPETALA yang tidak tertulis kemarin. Selain itu, memilih jalan terkait juga dengan pengharapan. Antara ingin dan tidak ingin, juga antara tujuan dan proses pencapaian. Karena kebahagiaan bukan sekedar akhir dari tujuan, melainkan juga prosesnya. Ya, filosofi yang ini memang terkait filosofi telur-ayam. Tapi, begitulah. Kita harus memilih untuk memandang dari telur, atau dari ayam dulu. Kita mau memandang dari kali pertama yang mana, sehingga kita bisa mengatakan yang ini proses dan yang lainnya tujuan.
Belajar bersyukur dengan sekian nikmat yang Allah SWT berikan di kehidupan kita, semestinya membuat kita makin awas. Ya, namanya belajar mestilah ada nuansa jatuh-bangun. Kali ini saya ingin mengajak calon pendamping saya lebih memahami, bahwa hidup tak selamanya berjalan seperti yang terkira.
Peristiwa masa lalu, pun termasuk peristiwa yang saat ini (kuliah ke Belanda). Mengajak saya untuk lebih awas, terhadap segala HTAG (halangan, tantangan, ancaman dan gangguan) yang tidak pernah berhenti menggoda. Sejujurnya saya mudah tergoda, saya tahu dimana saya lemah, saya berusaha untuk tidak terkalahkan (lagi). Bismillah..
Lanjut, maka hidup sederhana yang dibangun bukan berarti menyengsarakan diri. Bedakan, hidup sederhana bukan berarti miskin. Semangatnya adalah semangat memenuhi kebutuhan diri, bukan keinginan. Kalaupun ada lebihnya itu hak orang lain.
Maka, kita coba sekarang. 18 juta rupiah ini sebagai awal perjalanan hidup kita membangun mimpi. Meski dengan begitu artinya, saya harus ekstra keras dan cerdas untuk bisa bertahan hidup di negeri ini dan untuk membeli tiket pulang ke mimpi kita. Sekali lagi, bismillah.. Allah Maha Tahu, kita bisa.

mimpi adalah kisah hidupku

Kala itu, berbilang bulan bulan yang telah lalu
Hari yang kelam membungkus tubuhku ini
Yang lesu terlentang lemah tak berdaya
Dipenuhi doa dan harapan harapan diangan

Berangkatlah sang sukma menuju peraduan
Alam mimpipun segera datang menjemput
Kulihat diriku sedang melakukan perjalanan
Bersamaku beberapa teman-teman ikut didalamnya

Berjalan…kami berjalan seakan mengarungi lautan harapan
Wajah-wajah kamipun dipenuhi semangat
Meraih mimpi yang yang selalu mengusik hari hari
Tak sedikit keluhan dan desahan keluar dari mulut-mulut yang selalu membisu itu

Hingga tibalah kami memasuki gedung yang tinggi
Didalamnya terdapat tangga yang menghubungkan ke tiap tingkat
Kamipun menyusurinya untuk naik ketingkat selanjutnya
Berat sekali karena ternyata pada tangganya mengalir air yang deras

Terus-terus kami menaiki tangga itu
Satu demi satu diantara kami berguguran
Atau mungkin mereka berhenti ditiap tingkat yang ada
Karena yang kutahu jumlah kami makin sedikit

Dan akhirnya perjalanan itu menyisakan 3 orang
Pada puncak disebuah ruangan yang berjendela
Kulihat 1 orang berdiri didekat jendela
Ternyata orang itu terjatuh keluar, dan kulihat dibawah sana api menyala nyala seakan menyambutnya

Aku pun mundur surut beberapa langkah
Kulihat seorang kawan tak berani memasuki ruangan
Ia duduk berpegangan erat pada ujung tangga
Terlihatlah rasa pasrah diwajahnya

Diam-diam ketekuk lututku untuk bersyujud
Kusebut namanNya berulang kali
Segenap kepasrahanpun keluar dari jiwa ini
Entah berapa lama jiwa ini meratap dan bersyujud

Tiba tiba dihadapanku terpampang film kehidupan
Seakan sebuah tabir yang memberitakan kehidupanku
Satu persatupun babak dipertunjukan
Semua tampak seperti nyata dan jelas

Berbagai kesuksesan dan berbagai keindahan
Terpampang sangat jelas dan cepatnya
Hingga akhirnya seorang wanita hadir tersenyum
Ianya penuh jenaka dan coba menghiburku
Tanpa sabar akupun segera berucap
Ya Allah bukankah aku telah memilih si fulan
Dan akupun telah memintakan padaMu agar menjadi pendampingku
Aku juga telah menitipkanya padaMu melalui tiap pujian dan doa doa

Telah kuserahkan ia pada bimbinganMu
Agar ia siap mendampingiku kelak
Dalam menuntaskan cita dan harapan yang kupinta padaMu
Yang bukan lain adalah harapan umatMu jua

Mulutkupun tak henti henti melakukan penolakan
Aku bersikeras mempertahan  perasaanku padanya
Hanya dia dan hanya dia … Ya Allah
Akhirnya rasa gusarku membangunkanku

Aku diam termangu memikirkan apa yang telah terjadi
Rasa kantuku datang lagi hingga memuatku tertidur lagi
Segera mimpi itupun datang menghampiri
Sosok wanita itu dengan sabar menerangkan padaku

Dan katanya…..

Aku ada dan tercipta semata untuk menemanimu
Akulah yang akan menggenapkan tiap langkahmu
Kita wujudkan semua impian muliamu didunia ini
Dan yakinlah bersamaku semua itu kan terjadi

Lagi lagi aku memberontak dan kukatakan
Aku telah memilih si fulan  jadi pendampingku
Hanya dia…hanya dia ya Allah
Pemberontakanku membangunkanku kembali

Aku kembali diam termangu memikirkan semua itu
Tapi rasa kantuku yang berat membawaku tertidur kembali
Seperti sebelumnya mimpi itupun datang lagi
Kali ini aku diberikan pilihan dengan konsekuensinya

Pertama aku dipertemukan dengan si fulan pilihanku
Aku bersamanya dalam singgasana yang indah
Kulihat sekelilingku dipenuhi bangunan yang megah
Aku bahagia sekali didalamnya

Tapi kemudian adegan film lainya segera terbentang
Kali ini aku bersama sosok yang misterius itu
Dan sekarang aku tak bisa berkata kata lagi
Karena dunia nampak terang benderang
  
Segala sesuatunya mengeluarkan cahaya keperakan
Seakan dunia ikut hanyut didalam kebahagiaanku
Layar itupun segera menghilang
Sosok wanita itupun datang kembali

Dia terus mencoba meyakinkanku siapa ia
Sebelum hilang ia tinggalkan kata kata

Aku ada dibelakang masjid
Kutanyakan apakah kamu dekat dengan ustadt….
Jawabnya iya, dan akupun erat sekali hubunganya
Kebingungan dan keresahan membangunkanku terakhir kalinya

………………………………………………….
Kini, hari ini di tahun 2006 akupun masih bertanya
Benarkah semua itu, adakah wanita yang sadar akan penciptaanya
Sadar akan tugasnya didunia dan tahu persis siapa pendampingnya
Sebegitu dekatkah ia hubunganya dengan rabNya….

Tapi kalau itu tidak benar, kenapa sebagian kisahnya telah menjadi nyata !!!


Terima kasih Tuhan atas keadilan terhadap semua makhlukMu
Hingga ijinkan aku untuk sedikit tahu tabir keberadaanku
Dan Engkau ijinkan pula  aku untuk bercakap denganMu
Walau semua itu terjadi dalam sebuah tabir dalam tabir mimpi

kisah seorang pengamen kecil

11111111111111111111111Kulihat seorang anak kecil yang membawa sebuah gitar kecil dengan baju kusut, muka kusam, kaki hitam dan senyum yang keluar dengan memendam kelaparan diperut yang kecil itu. Hati ini menangis, hati ini bersedih dan hati ini sangat ingin memeluk dikau yang menggetarkan hati ini. Aku hanya bisa duduk dan memandangmu dibangku hitam dengan duduk bersanding orang banyak. Aku ciptakan sebuah puisi untukmu, untuk membantu semangatmu dan doamu kepada Ilahi Robbi.
Ketika aku senang, mereka merengek kelaparan,
ketika aku sedang asik makan, mereka lapar, mereka haus
ketika sang pagi datang dengan kesejukannya, mereka berlomba berlari untuk mendapatkan sebiji nasi,
wajahmu yang kusam, yang selalu kau tutupi dengan senyum indahmu dengan semangatmu,
aku menangis dalam hati ini…
kau yang selalu melantunkan nada-nada indah dan menghibur jutaan orang yang hendak pergi,
apa balasan mereka????? tangan yang mengatakan tidak, mereka yang pura-pura tidur…
kau yang selalu mengatakan “ikhlas bagimu, halal bagiku”
terenyuh hati ini, saat kau mengucapkan hal itu, hanya kehalalan yang kau cari….
tapi kehalalan itu rusak, hanya saja sedikit temanmu yang menyelewngkannya
sungguh malang nasibmu
pekerjaanmu mereka anggap hal yang hina…tapi tidak bagiku, kau mulia, kau pahlawan kecilku….
kau berkelahi dengan panasnya matahari, dengan debu dan asap kendaraan yang mematikan itu….
tetap semangat sahabatku…semoga kelak kau wujudkan cita-citamu….

Mereka di Jalanan Demi Sesuap Nasi

Fenomena anak jalanan, gelandangan dan pengemis memang menjadi masalah yang seolah tak pernah terhenti. Bahkan, dari beberapa hasil riset disebutkan bahwa setiap tahunnya, jumlah gelandangan dan anak jalanan semakin meningkat. Mereka mengaku tak memiliki pilihan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selain mengemis atau meminta-minta.

Salah satu anak jalanan yang ditemui di kawasan jalan Marsda Adisutjipto, Sleman Yogyakarta, Fitriana mengungkapkan, sejak usia 5 tahun, ia telah diajak orang tuanya untuk terjun ke jalanan. Pada mulanya ia tak pernah tahu jika ritual meminta-minta yang diajarkan ibunya tersebut pada akhirnya menjadi pekerjaannya setiap hari hingga usianya kini 9 tahun.

"Dulu waktu masih TK saya cuman diajakin ibu ke jalan setelah pulang sekolah. Terus diajari 'ngemis' di perempatan lampu merah sampai sekarang. Tapi biasanya mulai siang karena paginya harus sekolah dulu," ujarnya ketika berbincang dengan KRjogja.com, Kamis (19/2).

Fitri mengaku kebiasaan meminta-minta ini telah dilakukan orang tua beserta 2 orang kakaknya sejak ia masih sangat kecil. Sementara sang ayah bekerja tak tentu. Terkadang ayah Fitri hanya menjual pungutan botol plastik bekas air mineral. Kadang juga menarik becak milik
tetangganya. Sesekali, ayahnya juga ikut menjajakan koran di jalanan bersamanya. Keluarga Fitri mengaku harus melakukan ini karena ingin membiayai sekolah.

"Ya gimana lagi, keluarga saya memang tidak memiliki pekerjaan tetap. Padahal saya dan kakak saya harus sekolah. Makanya harus ngemis atau jualan koran. Kadang kalau hujan kami juga menawarkan jasa lap kaca mobil atau motor. Kadang juga sekedar membersihkan debu di kendaraan. Pokoknya apa saja asal dapat duit," katanya.

Menurutnya, pihak sekolah juga mengetahui jika ia sering mengemis usai pulang sekolah. Namun hal tersebut sama sekali tidak dilarang oleh gurunya. "Ibu guru tau, teman-teman juga tau. Tapi saya gak pernah dilarang. Yang penting tetap masuk sekolah saja," ujarnya.

Penghasilan dari meminta-minta di jalanan diakui cukup lumayan. Jika sedang mujur, ia bisa mengantongi uang hingga Rp100.000 tiap harinya. "Tapi gak pasti juga, kadang sehari cuma dapat Rp30.000-Rp50.000. Lumayan bisa untuk makan dan bayar sekolah," katanya.

Sementara itu, orang tua Fitri yang tak mau menyebutkan nama mengaku terpaksa melibatkan anaknya untuk ikut mencari uang di jalanan. "Sudah miskin mbak, mau cari kerja apa lagi kalau bisanya cuman ngemis. Dulu sih pernah jualan, tapi yo malah rugi kok," akunya.

Dikatakannya, lingkungan sekitar tempat tinggalnya memang kebanyakan gelandangan. Tetapi ia membantah jika tergabung dalam sindikat besar. "Gak ada bos-bosan. Ya cuman bareng teman-teman aja. Anak saya juga gak tak paksa dan pagi mereka tetap sekolah," katanya.

Beberapa kali, ia dan keluarganya juga kerap dibawa oleh satpol PP dan dibawa ke rumah singgah. Tetapi tak lantas membuatnya jera. "Ya mau gimana lagi, kalo abis dari rumah singgah juga gak bisa cari duit lagi buat makan dan sekolah. Jadi ya tetap ngemis aja. Kalau ditangkap itu sudah biasa kok," imbuhnya.

Kerasnya kehidupan jalanan adalah santapan mereka sehari-har

Anak Sekecil Itu...
Desy Susilawati
Kampleng. Bagi bocah yang mengaku berusia 14 tahun itu, tampaknya Kata itu terdengar istimewa. Maka, dia pun memilih kampleng yang bermakna tampar dalam bahasa Jawa itu sebagai namanya. Dia sama sekali tak bisa mengingat nama pemberian orangtuanya. Pun. asal usulnya.
"Sejak orangtua saya menghilang lima tahun lalu, saya hidup di jalanan seorang diri. Sampai sekarang, saya tidak menemukan di mana orangtua saya. Kehidupan keras pun harus saya jalani. Agar bisa bertahan hidup, saya mengamen di sekitar Pejaten," ujar Kampleng.
Di jembatan lampu merah Pejaten, Jakarta, berteman gitar kayu kopong dan sebatang rokok yang diisapnya dalam-dalam, Kampleng menghabiskan sisa malam. Sesekali tubuh kurusnya bergidik saat embusan angin malam menusuk.
Ketika jam dinas usai, Kampleng lebih suka pulang. Jangan membayangkan dia bakal mendatangi tempat tinggal nyaman dan hangat. Rumah untuk Kampleng adalah kolong jembatan Pejaten bersama puluhan anak jalanan yang lain.
Di sanalah, mereka membangun tempat singgah yang terbuat dari bedeng yang beralaskan kardus dan ditutupi spanduk. Cahaya cukup dari pendar lampu petromaks. Nasib Agus (15 tahun) tak lebih baik. Seperti Kampleng, dia tak mengenal orang tuanya dan hidup dari jalanan. Mungkin, dia sedikit lebih beruntung ketimbang Kampleng karena dia tak harus mencari nama yang tepat untuk dirinya.
"Saya nggak pernah kenal namanya orang tua. Dari dulu, saya sudah ada di jalanan, mungkin dibuang. Dulu sih saya pernah tinggal di panti, dulu banget waktu kecil. Orang panti juga yang kasih sayanama," ujarnya. Muhammad Rendi boleh jadi bernasib lebih baik. Dia punya nama dari orang tuanya dan masih memiliki ibu. "Ayah saya sudah meninggal," ujarnya lirih.
Namun, kerasnya kehidupan jalanan juga santapannya sehari-hari. Saat ditemui, Rendi seda/ig terjaring razia anak jalanan dan gepeng di Kota Bogor. Untuk dia, urusan tertangkap petugas Satpol PP tak lagi baru.Kapok? Tidak, tentu saja. "Saya sudah di jalanan selama delapan tahun." ujarnya. Ini berarti nyaris separuh lebih dari usianya yang sekitar 14 tahun itu dihabiskan di jalanan.
Napasnya pun telah menyatu dengan segala bentuk kekerasan yang terbentang di jalanan. Mulai dari aksi ciduk petugas hingga bayangan kejahatan yang dilakukan sesama pelaku jalanan. . Untuk Hendra, hidup di jalanan seolah menjadi bagian dari hidupnya. Ia Berada di jalan sejak usia delapan tahun. Dia pun telah merasakan keganasan itu hingga kini, saat usianya 18 tahun.
Dia tak akan jengah bila menyaksikan pertumpahan darah bisa terjadi hanya gara-gara tersenggol. Kekerasan fisik juga dialami. Bedanya, ini tak terjadi antara temannya sesama anak jalanan. "Kebanyakan s/hdari preman." ucapnya.
Bagi Agus, anak jalanan paling beruntung sekalipun tetap sulit menghindari perlakuan buruk semacam itu. "Orang baik, orangjahat, semua ada di jalanan. Nggak sedikit anak kecil yang sehari-hari hidup di jalanan. Mereka tinggal tanpa perlindungan dan nggak juga bisa melindungi diri sendiri. Kata orang-orang, jalanan tempat kejahatan merajalela. Jadi, wajar kalau kejahatan apa saja bisa menimpa anak jalanan. Yang bikin saya heran, justru orang-orang hebohnya setelah ada berita di koran dan televisi," ujar Agus.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo miris. Kendati, untuk dia, masalah anak jalanan merupakan hal yang umum di kota besar, bukan berarti masalah semacam itu akan dibiarkan berlarut-larut. "Perlu penanganan serius dari sejumlah pihak terkait," katanya.
Fauzi mengakui, penanganan anak jalanan yang dilakukan oleh DKI masih belum optimal. "Namun, kami berusaha menyediakan rumah-rumah singgah untuk mereka," ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Sosial DKI, Budihardjo. Dia tidak menampik bahwa fasilitas penanganan anak jalanan sangat minim. "Kapasitas sarana pembinaan tidak sesuai dengan jumlah anjal (anak jalanan) yang ada," ujarnya.
Namun, ingatan seorang Kampleng yang sudah beberapa kali keluar masuk panti sosial di Kedoya, Jakarta Barat, tentang pembinaan di panti jauh dari menyenangkan. "Seperti hidup dalam neraka," katanya."Saya dan teman-teman yang ketangkap dimasukkan ke dalam sel. Kita juga dipukuli dan diinjak-injak oleh petugas panti. Bahkan, rambut kita saja dibotakin. Tenaga kita juga diperas di sana. Belum lagi jatah makan kita yang hanya makanan sisa. Pokoknya, saya nggak tahan hidup di sana karena merasa di neraka. Akhirnya, saya dan teman-teman melarikan diri, ya walau suka ketangkap juga. Ibaratnya, kita main kucing-kucingan."
Keprihatinan serupa turut disuarakan Seto Mulyadi, ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Dengan jumlah anak jalanan 50 ribu di DKI Jakarta. Seto menyarankan pemerintah agar membangun pusat pengembangan kreativitas anak jalanan. Jangan hanya ditangkap dan membuat anak-anak jalanan tersebut seolah berada di penjara. "Buat anak-anak itu lebih aman berada di pusat pelatihan, harus ada bimbingan manusiawi, rohani, dan psikologis, terutama psikologis dan dinamika anak jalanan harus didalami," ujarnya.
Jika anak-anak itu merasa terpaksa dibawa oleh pemerintah untuk dibina, kata Seto, tak heran jika mereka melarikan diri dari panti-panti atau tempat penampungan anak jalanan. "Ada gula, ada semut. Jalanan merupakan gula bagi mereka. Buat pusat pelatihan seperti gula," tegasnya.
Di samping itu, Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, mengatakan, fenomena kekerasan terhadap anak meningkat. Fenomena ini, tuturnya, merupakan konsekuensi dari melonjaknya angka anak jalanan yang ada di 12 kota besar Indonesia.
Pada akhir 2009 lalu, jelasnya, 12 lembaga perlindungan anak mitra kerja Komnas Perlindungan Anak merilis bahwa terdapat 168 ribu anak
jalanan yang ada di 12 kota besar Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Angka ini melonjak sekitar 73 ribu dibandingkan pada 2008 lalu yang mencatat setidaknya terdapat 95 ribu anak jalanan.
Umumnya, papar Arist, mereka pernah mengalami kekerasan. "Macam-macam kekerasan mulai dari seksual, seperti disodomi orang dewasa, diperkosa oleh teman mereka sendiri, pembunuhan, hingga pemukulan," ungkap Arist yang ditemui pada Jumat (15/1).
Selain itu, Arist menduga bahwa banyak anak yang menjadi korban perdagangan organ tubuh. Ia pun mencontohkan Bunga (bukan nama sebenarnya). Bocah berusia 12 tahun ini ditemukan di Tokyo, Jepang, dengan kondisi kehilangan ginjal dan lidah terpotong.
Prasetyo (21) berkonsentrasi. Tangannya sibuk membubuhi sepatu putih itu dengan cat acrylic biru. Di
tangannya, polos sepatu itu disulap menjadi biru dengan motif bunda membuai anaknya di bagian depan atas sepatu.
Aktivitas mi dilakukan Tyo, sapaannya, saban mendapatkan pesanan. Biasanya, satu bulan dua kali order. Sehari-hari, ia biasa menjadi juru parkir di jalan Bukit Duri, Jakarta Selatan. "Kalau senggang, saya nongkrong di yayasan," ungkap Tyo merujuk pada Yayasan Annur Muhiyam di Jl Bukit Duri Tanjakan Batu. Tebet, Jakarta.
Kendati sejak kelas 2 SMP sudah di jalanan. Tyo mengaku beruntung. Setidaknya, sejak enam tahun lalu, waktunya kia i sedikit di jalanan.
Ia ditemui saat Menteri Sosial Salim Segaf Kl Jufrie bersama Dirjen Yanrehsos Mkmur Sunusi mengunjungi Yayasar Himmata di Plumpang, Jakarta Utara, baru-baru ini. Mereka memberikan bantuan kepada kedua orang tua Ardiansyah (9 tahun) yang tewas akibat dimutilasi Babe (Bekuni).
Kementerian Sosial menganggarkan Rp 184 miliar untuk pelayanan kesejahteraan anak, termasuk untuk anak jalanan.
Tyo hanya bisa berharap pemerintah memperbaiki nasib anak jalanan. "Jangan lagi terjadi korban."
Kampleng agaknya menyimpan asa serupa. Dulu, Kampleng hidup sebatang kara. Kini, dia memiliki keluarga baru. Dalam perjalanan hidupnya. Kampleng bertemu dengan Jujung dan Abay, anak jalanan lainnya. Ketiganya menjalin persahabatan erat layaknya saudara sekandung.
"Sekarang ini, saya tidak hidup sendiri lagi. Ada Jujung, Abay. dan teman-teman lainnya di sekitar saya. Saya juga punya Bang Syahrul yang sudah saya anggap sebagai abang kandung saya. Di bawah kolong jembatan, kita semua hidup menyatu. Kurang lebih 20 orang tinggal di sini," ujar Kampleng.
Jalan hidupnya mungkin saja tak banyak berubah. Namun, mata Kampleng tampak lebih bersinar. Dia
merasa telah menemukan tempat berlabuh. Dia menemukan kehangatan di antara teman-temannya senasib.
Di sudut lain, di bawah naungan jalan tol Pondok Pinang, Agus tampak sibuk membenahi barang dagangannya berupa bergelas-gelas air kemasan. Hujan deras membuat dagangannya tak lekas laku.
Sambil kembali membenahi dagangannya, mata Agus tak lepas dari rombongan pengamen di seberang jalan tempatnya duduk.
"Kalau punya pilihan, tidak mungkin ada orang yang mau hidup di jalanan. Mbak. Sayangnya, saya bahkan tidak bisa membayangkan ada kehidupan lain selain di tempat ini," ujarnya.
Dia pun bergegas mengejar metromini di simpang lampu merah, kembali menjemput pembeli. Alunan lagu Iwan Fals yang dilantunkan para pengamen itu terdengar lirih, "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu...." cOl/cO8/cO9/cl3/cl6 ed endah